26 April, 2016

Cara menanam kuyit /Teknik budidaya kunyit

      Kunyit merupakan salah satu tanaman rempah dan termasuk dari deretan obat tradisional dan tanaman asli dari Asia tenggara, khususnya di negara kesatuan Republik Indonesia.
Kunyit dalam bahasa latin dikenal dengan nama Curcuma loga dan penyebarannya meliputi Indonesia, Malaysia, Australia dan Afrika. Setiap orang yang tinggal di daratan Asia, Khususnya Bangsa Indonesia dan India, pada umumnya pernah mengonsumsi tanaman rempah-rempah jenis ini, karena rempah ini banyak ditemukan pada makanan dan minuman tradisionalnya, contohnya digunakan sebagai pelengkap bumbu masakan dan jamu (minuman obat), karena dipercaya dapat menjaga kesehatan tubuh dan untuk kecantikan.

      Kunyit tergolong dalam kelompok jahe-jahean (Zingiberaceae). Di negara kesatuan republik Indonesia, kunyit dikenal dengan bahasa daerah atau lokal dengan sebutan janar (Banjar), kunir (Jawa), koneng (Sunda) dan konyet (Madura).
Sedangkan dibelahan bumi yang lain kunyit dikenal dengan nama turmeric (Inggris), kurkuma (Belanda) dan kunyit untuk (Malaysia), karena negara Malaysia termasuk negara serumpun melayu dengan bangsa Indonesia dan dikenal memiliki tata bahasa yang hampir sama dengan bahasa Indonesia. Berikut adalah klasifikasi ilmiahnya;

      Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Plantae
(tidak termasuk): Angiosperms
(tidak termasuk): Monocots
(tidak termasuk): Commelinids
Ordo: Zingiberales
Famili: Zingiberaceae
Genus: Curcuma
Spesies: C. longa
Nama binomial; Curcuma longa L.

      Curcuma loga atau kunyit merupakan salah satu tanaman rempah paling terkenal di dunia. Karena produk farmasi dari bahan baku curcuma mampu bersaing dengan obat-obatan berpaten, contohnya produk peradangan sendi (arthritis-rheumatoid) atau osteo-arthritis berbahan aktif natrium deklofenak, piroksikam dan fenil butason dengan harga relatif mahal atau suplemen makanan (Vitamin-plus) dalam bentuk kapsul.
Produk berbahan baku dari ekstrak kunyit yaitu berupa suplemen makanan dalam bentuk kapsul (Vitamin-plus), pasar dan industrinya telah berkembang dengan pesat. Karena suplemen tersebut diberi tambahan vitamin B1, B2, B6, B12, Vitamin E, Lesitin, Amprotab, Mg-stearat, Nepagin dan Kolidon 90. Penambahan vitamin tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi kesehatan tubuh konsumennya.

      Teknik budidaya kunyit.

      Menanam kunyit pada dasarnya sangat mudah dilakukan, kunyit akan tumbuh dengan baik dan akan menghasilkan panen melimpah, bila menggunakan teknik budidaya yang baik dan benar.
Sebenarnya kunyit dapat tumbuh dengan dengan di Indonesia, karena tumbuhan kunyit berupa tanaman semak dan bersifat tahunan (perenial).
Penghasil kunyit terbesar di Indonesia saat ini terletak di provinsi jawa tengah,

      Kunyit sangat menyukai tanah yang subur dan gembur, jenis tanah ideal untuk penanaman adalah tanah yang banyak mengandung unsur hara, kontur ringan, lempung berpasir, bebas dari genangan air dan sedikit basah.

1. Pemilihan Bibit;
Bibit kunyit yang baik berasal dari pemecahan rimpang, karena akan tumbuh lebih mudah dan mengurangi resiko gagal tumbuh.
Bibit berasal dari tanaman yang tumbuh subur, segar, sehat, kokoh, berdaun banyak dan hijau.
Terhindar dari serangan penyakit.
Cukup umur atau berasal dari rimpang yang telah berumur ±7 - 12 bulan.
Memiliki bentuk, ukuran dan warna seragam.
Cukup memiliki kadar air.
Benih telah mengalami masa istirahat (dormansi) yang cukup.
Terbebas dari benda asing seperti biji tanaman lain, kulit, kerikil).

2. Teknik Penyemaian Bibit;
Pertumbuhan tunas rimpang kunyit dapat dirangsang dengan cara mengangin-anginkan rimpang di tempat teduh atau lembab selama 1 - 1,5 bulan dengan penyiraman 2 kali sehari (pagi dan sore hari). Bibit akan tumbuh dengan baik, bila disimpan dalam suhu kamar (25 - 28 Derajat Celcius).
Selain itu menempatkan rimpang diantara jerami pada suhu udara sekitar 25 - 28 Derajat Celcius atau merendam bibit pada larutan ZPT (zat pengatur tumbuh) selama 3 jam. ZPT yang sering digunakan adalah larutan atonik (1 cc/1,5 liter air) dan larutan G-3 (500-700 ppm). Rimpang yang akan direndam larutan ZPT harus dikeringkan dahulu selama 42 jam pada suhu udara 35 Derajat Celcius. Jumlah anakan atau berat rimpang dapat ditingkatkan dengan cara direndam pada larutan pakloburazol sebanyak 250 ppm.

3. Pengolahan Media Tanam;
Persiapan Lahan; Lokasi penanaman dapat berupa lahan kering (tanah darat / tegalan), perkebunan atau di sekitar pekarangan. Penyiapan lahan untuk kebun kunyit sebaiknya dilakukan 30 hari sebelum tanam.

Pembukaan Lahan;  Lahan yang akan ditanami dibersihkan dari gulma dan dicangkul secara manual atau menggunakan alat mekanik guna menggemburkan lapisan top soil dan sub soil juga sekaligus mengembalikan kesuburan tanah. Tanah dicangkul pada kedalaman 20 - 30 cm kemudian diistirahatkan selama 1 - 2 minggu agar gas-gas beracun yang ada didalam tanah dapat menguap dan bibit penyakit/hama yang ada akan mati, karena terkena sinar matahari.

Pembuatan Bedengan; Buat bedengan selebar 60 - 100 cm dan tinggi 25 - 45 cm dengann jarak antar bedengan 30 - 50 cm.

Pemberian pupuk dasar (sebelum tanam); untuk mempertahankan kegemburan tanah, meningkatkan unsur hara dalam tanah, drainase, dan aerasi yang lancar, harus dilakukan dengan menaburkan pupuk dasar (pupuk kandang) ke dalam lahan/dalam lubang tanam dan dibiarkan 1 minggu. Tiap lubang tanam membutuhkan pupuk kandang 2,5 - 3 kg.

4. Penanaman bibit;
Kebutuhan bibit kunyit dengan luas lahan 1 hektar, membutuhkan 0,50-0,65 ton. Maka diharapkan akan diperoleh produksi rimpang sebesar 20 - 30 ton/ha.

Pola Tanam; Bibit kunyit yang telah disiapkan, kemudian ditanam ke dalam lubang berukuran 5 - 10 cm dengan arah mata tunas mengarah ke atas. Tanaman kunyit ditanam dengan 2 pola, yaitu penanaman di awal musim hujan dengan pemanenan di awal musim kemarau (7 - 8 bulan) atau penanaman di awal musim hujan dan pemanenan dilakukan dengan didua kali musim kemarau (12 - 18 bulan). Kedua pola tersebut dilakukan pada masa tanam yang sama, yaitu pada awal musim penghujan. Perbedaannya hanya terletak pada masa panennya.

Pembutan Lubang Tanam; Lubang tanam dibuat di atas bedengan/petakan dengan ukuran lubang 30 x 30 cm dengan kedalaman 60 cm dengan jarak antar lubang adalah 60 x 60 cm.

Cara Penanaman; Teknik penanaman dengan perlakuan stek rimpang dalam nitro aromatik sebanyak 1 ml/liter pada media yang diberi plastik mulsa, ternyata berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan vegetatif kunyit, sedangkan penggunaan zat pengatur tumbuh IBA (indolebutyric acid), sebanyak 200 mg/liter pada media yang sama berpengaruh nyata terhadap pembentukan rimpang kunyit.

Periode Tanam; Masa tanam kunyit yaitu pada awal musim hujan sama seperti tanaman rimpang-rimpangan lainnya. Hal ini dimungkinkan karena tanaman muda akan membutuhkan air cukup banyak untuk pertumbuhannya. Walaupun rimpang tanaman ini nantinya dipanen muda yaitu antara 7 - 8 bulan, akan tetapi masa tanam selanjutnya akan tetap berada diawal musim penghujan.

5. Perawatan;
Penyisipan; Penyisipan dapat dilakukan ketika adanya rimpang kunyit yang mati atau tidak tumbuh. Sehingga diperlukan melakukan penyisipan atau menganti tanaman lama ketanaman baru, di saat rimpang yang lama telah mati.

Penyiangan: Proses penyiangan perlu dilakukan untuk menghilangkan gulma atau tanaman yang tidak dikehendaki. Penyiangan dilakukan agar gulma tidak mengganggu proses penyerapan unsur hara dan penyerapan air di dalam tanah. Kegiatan penyiangan dapat dilakukan 3 hingga 5 kali bersamaan dengan proses penggemburan dan pemupukan tanaman. Penyiangan tahap pertama dapat dilakukan pada saat rimpang kunyit berumur 15 hari. Proses penyiangan dapat diseragamkan dengan kegiatan penimbunan untuk merangsang rimpang kunyit agar dapat tumbuh maksimal.

Penimbunan; Proses penimbunan wajib dilakukan setiap 3 sampai 4 bulan sekali. Proses ini berguna untuk menimbun kembali tanah di sekitar perakaran yang terbawa air. Nah jika perakaran dan sekitarnya baik, maka pertumbuhan kunyit tersebut akan dapat tumbuh dengan maksimal atau sesuai harapan petani.

Pemupukan;
Pemupukan organik;
Pemupukan organik adalah penggunaan pupuk tanpa campuran zat kimia. Pupuk organik biasanya terbuat dari limbah organik seperti kotoran hewan. Salah satunya adalah pupuk kandang. Penggunaan pupuk kandang bisa meningkatkan jumlah daun, anak dan luas area daun kunyit dengan nyata. Pencampuran pupuk kandang dengan dosis 45 ton per hektar dengan jumah tanaman 160.000 per hektar, maka dapat menghasilkan produk mencapai 29,93 ton per hektar.

Pemupukan konvensional;
Selain pemberian pupuk dasar, pada saat awal penanaman perlu juga adanya tambahan pemupukan susulan. Yaitu pada saat umur tanaman mencapai usia 2 hingga 4 bulan.
Penggunaan pupuk kedua yaitu pupuk buatan dan pupuk kandang (TSP 10 gram tiap pohon; urea 20 gram tiap pohon; ZK 10 gram tiap pohon dan penambahan K20 dengan dosis 112 kg per hektar). Dengan adanya pemupukan lanjutan diharapkan terjadi peningkatan hasil produksi sebesar 38% atau setara dengan 7,5 ton rimpang segar per hektarnya.

Pupuk nitrogen juga diberikan dengan dosis 60 kg per hektar, K2O sebanyak 75 kg per hektar dan P2O5 sebanyak 50 kg per hektar. Pemberian pupuk P diberikan pada awal tanam yaitu 1/3 dosis dan sisanya 2/3 dosis. Pemberian pupuk ini diberikan pada saat umur tanaman telah mencapai 2 bulan dan 4 bulan. Pengaplikasian pupuk ini dengan cara di tebar secara merata pada sekitar tanaman tersebut. Pempupukan adalah tahapan cara budidaya kunyit yang sangat penting untuk mendongkrak hasil produksi.

Pengairan dan penyiraman; Tanaman kunyit pada dasarnya merupakan tanaman yang tidak tahan terhadap air. Pengaturan drainase atau pengairan perlu dicermati dengan baik. Jika kebun tergenang air, maka akan mengakibatkan rimpang membusuk.

Masa penyemprotan pestisida; Untuk mengantisipasi serangan hama dan penyakit, maka perlu adanya penyemprotan pestisida dengan skala yang teratur. Penggunaan dosis mengikuti rekomandasi dari label pada kemasan penggunaan pestisida.

Pemberian mulsa; Pada awal tanam sebaiknya dilakukan pemulsaan dengan jerami. Pemulsaan dilakukan agar tanaman tidak mengalami kekeringan pada tanah dan menghindari rusaknya struktur tanah. Pemulsaan bisa menghindari pertumbuhan gulma secara cepat. Pemulsaan dengan jerami dilakukan dengan cara ditebar secara merata pada permukaan tanah dan diantara lubang tanam.

6. Hama dan Peyakit
A. Hama

Hama yang sering menyerang kunyit adalah ulat penggerek akar yang memiliki nama latin Dichcrosis Puntifera.
Biasanya serangan ini ditandai dengan gejala tunas daun akan terlihat layu dan lambat laun mengering hingga akhirnya mengalami pembusukan. Pengendalian jenis hama ini dapat dilakukan dengan cara menyemprotkan atau menaburkan insektisida furadan G-3.

B. Penyakit

Busuk bakteri rimpang.
Gejala: kulit akar tanaman menjadi keriput dan mengelupas, kemudian rimpang lama kelamaan membusuk dan keropos.

Pengendalian: mencegah terjadi genangan air pada lahan, mencegah terlukanya rimpang, penyemprotan fungisida dithane M-45.

Karat daun kunyit.
Penyebab: Taphrina macullans Bult dan Colletothrium capisici atau oleh kutu daun yang disebut Panchaetothrips.

Gejala: timbulnya warna coklat (karat) pada tiap helai daun, bila penyakit ini menyerang tanaman dewasa atau daun yang tua, maka tidak akan mempengaruhi produksinya sebaliknya jika menyerang tanaman atau daun muda, maka akan menyebabkan tanaman tersebut menjadi mati.

Pengendalian: Dilakukan dengan mengurangi kelembaban, Penyemprotan insektisida, seperti dengan agrotion 2 cc/liter atau dengan fungisida dithane M-45 secara teratur selama seminggu sekali.

Gulma;
Gulma sangat berpotensi mengganggu proses budidaya kunyit. Dimana gulma pada umumnya merupakan tanaman yang pertumbuhannya tidak dikehendaki. Untuk menekan pertumbuhan gulma, dapat dilakukan dengan menggunakan pengendalian secara organik. Pengendalian ini tidak menggunakan zat kimia yang dapat merusak lingkungan. Pengendalian secara organik juga dikenal sebagai pegendalian hama terpadu (PHT). Komponen PHT diantaranya;

Pemilihan bibit unggul yang sehat dan terbebas dari hama penyakit.
Memanfaatkan secara maksimal musuh - musuh alami.
Penggunaan varietas - varietas unggul yang bisa tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
Penggunaan pengendalian fisik ataupun mekanik dengan memanfaatkan tenaga manusia.

7. Masa panen
Cara budidaya kunyit selanjutnya adalah tahapan panen. Adapun hal - hal yang harus diperhatikan dalam proses pemanenan kunyit adalah sebagai berikut;

Ciri-ciri dan umur panen;
Tanaman kunyit dapat dipanen pada saat umur sudah mencapai 8 hingga 18 bulan. Tapi waktu yang paling baik adalah umur tanaman sudah mencapai 11 hingga 12 bulan. Hal tersebut akan ditandai dengan gugurnya daun kedua. Pada waktu tersebut hasil produksi akan lebih besar dan lebih banyak dibanding umur panen 7 hingga 8 bulan. Ciri - ciri tanaman yang dapat dipanen dilihat dari berakhirnya pertumbuhan vegetatif, seperti halnya terjadi layu pada daun serta batang yang awalnya hijau berubah kuning (tanaman terlihat mati).

Cara panen;
Cara pemanenan bisa dilakukan dengan membongkar rimpang. Caranya dengan memakai cangkul atau garpu. Sebelum dilakukan pencangkulan, lebih baik batang dan daun dibongkar terlebih dahulu. Setelah pencangkulan, rimpang dibersihkan dari tanah dan dimasukkan kedalam karung supaya tidak rusak. Lakukan panen secara hati - hati.

Periode panen;
Panen kunyit dapat juga dilakukan pada musim kemarau. Hal tersebut dikarenakan pada waktu tersebut sari atau zat yang terkandung mengumpul. Disisi lain, kadar air pada rimpang sudah sedikit sehingga mempermudah Anda dalam proses pengeringan.

Perkiraan hasil panen;
Hasil panen dapat di taksir hingga 0,71 kg per rimpang. Berat tersebut adalah berat bersih. Sehingga hasil produksi tersebut adalah 20 hingga 30 ton per hektarnya.

        Demikian sedikit informasi mengenai cara budidaya kunyit. Semoga bermanfaat dan sukses.
Sekian dan terima kasih.

20 April, 2016

Cara membuat POC Rotan sendiri (Rotan 1)

       POC atau lebih dikenal dengan singkatan dari Pupuk organik cair, sedangkan Rotan dikenal dengan singkatan dari Ramuan organik tanaman.
Rotan atau Ramuan organik tanaman berfungsi sebagai pupuk cair berbasis organik yang ramah lingkungan, selain itu Rotan juga dapat diaplikasikan sebagai perawatan dan dapat diterapkan keberbagai  jenis tanaman.
Pengaplikasiannya dapat dicampur dengan pupuk kimia, pestisida sintetis/pembasmi hama, pestisida berbasis pungisida dan lain sebagainya.
Berikut adalah cara membuat poc rotan tersebut.
         Bahan-bahan;
1. Buah Pisang : 5 buah
2. Buah Pepaya : 1 buah
3. Buah Nanas : 1 buah
4. Buah Mangga : 2 buah
5. Buah Melon/semangka : 1 buah
6. Kangkung air : 3 ikat
7. Kacang panjang : 3 ikat
8. Jagung muda : 2 buah
9. Ragi : 3 butir
10. Air kelapa : 5 liter
11. Air cucian beras (leri) : 3 liter
12. Gula merah (gula kelapa) : 1 kg
13. Usus ikan : 2 ons

Cara membuat :
Giling/blender bahan nomor 1 sampai nomor 8 hingga halus.
Kemudian gula dimasak menggunakan 1 liter air sampai mendidih, lalu diamkan hingga dingin.
Campur semua bahan menjadi satu dan diaduk-aduk hingga tercampur rata.
Simpan larutan kedalam wadah kaca/bumbung bambu dan ditutup rapat, hindari penyimpanan dari wadah yang terbuat plastik dan logam.
Setelah itu diamkan selama 10-14 hari dan setiap 2 hari sekali aduk larutan selama 5 menit, kemudian ditutup kembali, tujuannya agar fermentasi menjadi sempurna.
Ciri-ciri selesainya batas waktu fermentasi dapat dilihat dari tidak adanya gas yang terkandung.
Ciri-ciri bahwa pembuatan rotan telah berhasil, maka larutan tersebut akan mengeluarkan aroma masam seperti aroma tape.
Kemudian saring airnya dan ampasnya jangan dibuang, karena didalam ampas.tersebut masih mengandung mikroba yang sangat baik bagi tanaman.

      Kandungan POC Rotan buatan ini mengandung mikroba Azotobacter sp, Pseudomonas sp, Azospirillium sp, Rhizobium sp, Lactobacillius sp, dan Streptomyces sp.
POC Rotan buatan ini disebut dengan Rotan 1.

     Cara memperbanyak POC ROTAN hingga mencapai 100 liter dengan kualitas seperti aslinya diatas;
     Bahan-bahan;
1. Air bersih ( air sumur/mata air) : 100 liter
2. Dedak : 10 kg
3. Gula kelapa : 5 kg
4. Air kelapa : 10 liter
5. POC ROTAN : 1 liter

Cara membuat;
Panaskan air, dedak dan gula, setelah dingin campurkan dengan dengan air kelapa dan ROTAN, kemudian masukan ke dalam drum plastic dan kemudian di tutup hingga rapat selama 7 hari.

      Cara meningkatkan kualitas rotan hingga mencapai kualitas terbaik adalah sebagai berikut;
Tambahkan ZPT Auxin 1 Liter, Sitokinin 1 liter kedalam 100 liter tersebut, fungsinya sebagai pupuk vegetatif.
Tambahkan ZPT Sitokini ½ liter, Giberelin 1.5 liter kedalam 100 liter tersebut, fungsinya sebagai pupuk generatif.

Dosis untuk aplikasi pada tanaman;
Untuk tanaman padi : 250 ml campur dengan air 14 liter dan gunakan 1 minggu sekali.
Untuk palawija : 100 ml campur dengan air 14 liter dan gunakan 1 minggu sekali.

       Cara menambah dan mencukupi kebutuhan unsur hara makro dan mikro pada pupuk organik padat/bokashi;
       Bahan-bahan;
1. Kohe domba : 1 ton
2. Dolomit : 100 kg
3. Dedak : 50 kg
4. Sekam : 300 kg
5. Jerami : 1 ton
6. ROTAN : 4 liter
7. Air kelapa : secukupnya

Cara membuat;
Lakukan Fermentasi semua bahan selama 5-7 hari.
Keunggulan kandungan terdapat 16 unsur hara untuk mencukupi 1 hektare lahan pertanian.

      Demikian sedikit informasi mengenai cara membuat dan memperbanyak POC ROTAN.
Semoga bermanfaat dan sukses.

Peranan Pestisida dan Dampaknya

    Pestisida atau lebih dikenal dengan sebutan racun pembasmi hama dan pada umumnya memiliki nilai ekonomis terutama bagi para petani.
Pestisida mempunyai kemampuan membasmi organisme selektif atau target organisme, namun dari beberapa prakteknya penggunaan pestisida dapat menimbulkan bahaya pada organisme non target.
Selain dampak negatif terhadap organisme non target, dampak utamanya meliputi sebuah pencemaran lingkungan dan menimbulkan keracunan, bahkan dapat menimbulkan kematian bagi manusia itu sendiri.

    Latar belakang dari pestisida berasal dari kata pest ("hama") dan diberi akhiran -cide ("pembasmi"). Sasarannya beraneka ragam seperti serangga, tikus, keong, burung, mamalia, ikan, mikroba, bakteria, pungi, virus dan plantae yang dianggap mengganggu.
Penggunaan pestisida didalam dunia pertanian dimaksudkan untuk memperbaiki kwalitas hasil panen dan meningkatkan produksi pangan.
Meningkatnya frekuensi serta intensitas hama penyakit, banyak mendorong petani tidak dapat menghindari pestisida.
Penggunaan pestisida didalam dunia kesehatan merupakan salah satu cara dalam pengendalian vektor penyakit.
Pengendalian vektor penyakit sangat efektif untuk diterapkan, jika intensitas populasi vektor penyakit melonjak tinggi, maka gunanya untuk menanggulangi beberapa kasus penyakit menular yang telah diambang menghawatirkan dalam penyebarannya.

    Pestisida diketahui telah digunakan manusia pada tahun 2000 SM untuk melindungi tanaman pertanian dari hama dan penyakit.
Sekitar 4500 tahun yang lampau pestisida pertama berupa sulfur dalam aplikasinya ditebarkan diatas lahan pertanian di Sumeria.
Senyawa seperti arsenik, raksa dan timbal sejak abad ke 15 telah diterapkan di lahan pertanian untuk membunuh hama.
Hal ini berlanjut pada abad ke 17 yaitu penggunaan nikotin sulfat diekstraksi dari daun tembakau untuk dijadikan insektisida.
Abad ke 19, piretrum dari bunga krisan dan rotenon dari akar sayuran mulai dikembangkan dan hingga tahun 1950an, pestisida berbahan dasar arsenik masih dominan.
Paul Herman Müller menemukan DDT yang sangat efektif digunakan sebagai insektisida, Organoklorin menjadi dominan. Pada tahun 1960an bahwa DDT menjadi penyebab berbagai macam jenis burung pemakan ikan tidak bereproduksi dan menjadi masalah serius bagi keanekaragaman hayati.
Penggunaan DDT dalam pertanian kini dilarang dalam Konvensi Stockholm, namun masih digunakan di beberapa negara berkembang untuk mencegah malaria dan penyakit tropis lainnya dengan menyemportkannya ke dinding untuk mencegah kehadiran nyamuk.
Padahal sejak tahun 1975 di negara maju segera digantikan oleh organofosfat dan karbamat.
Herbisida berkembang dan mulai digunakan secara luas pada tahun 1960an dengan triazin dan senyawa berbasis nitrogen lainnya, asam karboksilat dan glifosat.

        Petani adalah kelompok pekerja terbesar di Indonesia, Namun akhir-akhir ini keberadaannya cenderung menurun.
Jumlah petani di Indonesia diperkirakan hanya berjumlah 40% serta penyebarannya terbagi di dua sektor pertanian dan perkebunan.
Adapun untuk meningkatkan hasil pertanian secara optimal didalam paket intensifikasi pertanian telah diterapkan berbagai teknologi yaitu adanya penggunan agrokimia (bahan kimia sintetik).
Penggunaannya telah diperkenalkan secara besar-besaran (massive) untuk menggantikan kebiasan atau teknologi lama yaitu baik dalam hal pengendalian hama maupun dalam hal pemupukan tanaman.
Pestisida holtikultura cederung memakai pestisida bukan atas dasar indikasi, melainkan menjalankan cara cover blanket system yaitu tidak adanya hama pada tanaman akan tetap disemprot menggunakan pestisida.

     Akibat penggunaan pestisida tidak terkendali, pada umumnya akan berdampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan petani itu sendiri.
Beberapa faktor resiko keracunan pestisida organofosfat disebabkan oleh usia, jenis kelamin, pengetahuan, pengalaman, keterampilan, pendidikan, pemakaian Alat Pelindung Diri, status gizi dan praktek penanganan pestisida.
Namun fase kritis yang harus diperhatikan adalah penyimpanan pestisida, pencampuran pestisida, penggunaan pestisida dan pasca penggunaan pestisida.
Pestisida organofosfat adalah salah satu jenis pestisida yang banyak digunakan dan dampak negatifnya menimbulkan berat badan menurun, anorexia, anemia, tremor, sakit kepala, pusing, gelisah, gangguan psikologis, sakit dada dan lekas marah.
Selain itu keluhan yang sering ditemukan adalah muntah-muntah, ludah terasa lebih banyak, mencret, namun gejala-gejala ini dianggap oleh petani sebagai sakit biasa.

    Pestisida dikenalkan kepada petani bermacam-macam jenisnya, karena mempunyai sifat fisik dan kimia berbeda.
Pestisida di golongkan tergantung pada  sasaran kepentingannya yaitu berdasarkan struktur kimianya, asal dan sifat kimia, berdasarkan bentuk dan pengaruh fisiologisnya.
Jenis Pestisida Menurut Sasaran Dan Pengaruh fisiologisnya adalah sebagai berikut.
Akarisida;
Akarisida berasal dari kata akari atau bahasa latinnya berarti tungau atau kutu. Akarisida sering juga disebut Mitesida. Fungsinya untuk membunuh tungau atau kutu.

Algasida;
Algasida berasal dari kata alga atau bahasa latinnya berarti ganggang laut, berfungsi untuk membunuh algae.
Contohnya Dimanin.

Alvisida;
Alvisida berasal dari kata avis bahasa latinnya berarti burung, fungsinya sebagai pembunuh atau penolak burung. Contohnya Avitrol untuk burung kakak tua.

Bakterisida;
Bakterisida berasal dari kata bacterium atau kata Yunani bakron, berfungsi untuk membunuh bakteri. Contohnya Agrept, Agrimycin, Bacticin, Tetracyclin, Trichlorophenol Streptomycin.

Fungsida;
Fungsida, berasal dari kata fungus atau  bahasa yunaninya spongos yang berarti jamur, berfungsi untuk membunuh jamur atau cendawan. Dapat bersifat fungitoksik (membunuh cendawan) atau fungistatik (menekan pertumbuhan cendawan).
Contohnya Benlate, Dithane M-45 80P, Antracol 70 WP, Cupravit OB 21, Delsene MX 200, Dimatan 50 WP.

Herbisida;
Herbisida berasal dari bahasa latin herba, artinya tanaman setahun, berfungsi untuk membunuh gulma.
Contohnya Gramoxone, Basta 200 AS, Basfapon 85 SP, Esteron 45 P

Insektisida;
Insektisida berasal dari bahasa latin insectum, artinya potongan, keratan segmen tubuh, berfungsi untuk membunuh serangga.
Contohnya Lebaycid, Lirocide 650 EC, Thiodan, Sevin, Sevidan 70 WP, Tamaron.

Molluskisida;
Molluskisida berasal dari bahasa Yunani molluscus, artinya berselubung tipis atau lembek, berfungsi untuk membunuh siput.
Contohnya Morestan, PLP, Brestan 60.

Nematisida;
Nematisida berasal dari bahasa latin nematoda, atau bahasa Yunani nema berarti benang, berfungsi untuk membunuh nematoda.
Contohnya Nemacur, Furadan, Basamid G, Temik 10 G, Vydate.

Ovisida;
Ovisida berasal dari bahasa latin ovum berarti telur, berfungsi untuk merusak telur.

Pedukulisida;
Pedukulisida berasal dari bahasa latin pedis, berarti kutu, tuma, berfungsi untuk membunuh kutu atau tuma.

Piscisida;
Piscisida berasal dari bahasa Yunani Piscis, berarti ikan, berfungsi untuk membunuh ikan.
Contohnya Sqousin untuk Cypirinidae, Chemish 5 EC.

Predisida;
Predisida berasal dari bahasa Yunani Praeda berarti pemangsa, berfungsi sebagai pembunuh predator.

Rodentisida;
Rodentisida berasal dari bahasa Yunani rodere, berarti pengerat berfungsi untuk membunuh binatang pengerat. Contohnya Dipachin 110, Klerat RMB, Racumin, Ratikus RB, Ratilan, Ratak, Gisorin.

Termisida;
Termisida berasal dari bahasa Yunani termes, artinya serangga pelubang kayu berfungsi untuk membunuh rayap. Contohnya Agrolene 26 WP, Chlordane 960 EC, Sevidol 20/20 WP, Lindamul 10 EC, Difusol CB.

Silvisida;
Silvisida berasal dari bahasa latin silva berarti hutan, berfungsi untuk membunuh pohon atau pembersih pohon.

Larvasida;
Larvasida berasal dari bahasa Yunani lar, berfungsi membunuh ulat (larva). Contohnya Fenthion, Dipel (Thuricide).

   Jika dilihat dari cara kerjanya, maka peran pestisida dapat dibedakan menjadi tiga kelompok dalam peranannya membunuh hama yaitu racun perut, racun kontak dan racun gas.
Racun perut.
Artinya mempunyai daya bunuh setelah jasad sasaran memakan pestisida.
Jenis pestisida dari kelompok ini pada umumnya dipakai untuk membasmi serangga-serangga pengunyah, penjilat dan penggigit. Daya bunuhnya melalui perut. Contoh: Diazinon 60 EC.

Racun kontak.
Artinya mempunyai daya bunuh setelah tubuh jasad terkena pestisida.
Jenis pestisida dari kelompok ini pada umumnya Organisme tersebut terkena pestisida secara kontak langsung atau bersinggungan dengan residu pada permukaan yang terkena pestisida. Contoh: Mipcin 50 WP.

Racun gas.
Artinya mempunyai daya bunuh setelah jasad sasaran terkena uap atau gas. Jenis pestisida dari kelompok ini disebut juga dengan fumigant dan digunakan terbatas pada ruangan-ruangan tertutup.

    Struktur kimia pestisida pada umumnya dibagi atas tiga jenis diantaranya adalah sebagai berikut.
Orgahochlorine.
Pestisida jenis ini mengandung unsur-unsur Carbon, Hidrogen, dan Chlorine. Misal : DDT, Dieldrin, Endrin dan lain-lain.
Umumnya golongan ini mempunyai sifat: merupakan racun yang universal, degradasinya berlangsung sangat lambat larut dalam lemak.
Orgahoposphate.
Pestisida jenis ini mengandung unsur : P, C dan H.
Misal : tetra ethyl phyro posphate (TEPP ), Diazonin dan Basudin.
Golongan ini mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : merupakan racun yang tidak selektif degradasinya berlangsung lebih cepat atau kurang persisten di lingkungan, menimbulkan resisten pada berbagai serangga dan memusnahkan populasi predator dan serangga parasit, lebih toksik terhadap manusia dari pada organokhlor.
Carbamate.
Pestisida jenis ini mengandung gugus Carbamate.
Misal : Baygon, Sevin dan Isolan.
Golongan ini mempunyai sifat sebagai berikut : mirip dengan sifat pestisida organophosfat, tidak terakumulasi dalam sistem kehidupan, degradasi tetap cepat diturunkan dan dieliminasi namun pestisida ini aman untuk hewan, tetapi toksik yang kuat untuk tawon.

Pyretroid.
Salah satu insektisida tertua di dunia, merupakan campuran dari beberapa ester yang disebut pyretrin yang diekstraksi dari bunga dari genus Chrysanthemum. Jenis pyretroid yang relatif stabil terhadap sinar matahari adalah : deltametrin, permetrin, fenvalerate. Sedangkan jenis pyretroid yang sintetis yang stabil terhadap sinar matahari dan sangat beracun bagi serangga adalah : difetrin, sipermetrin, fluvalinate, siflutrin, fenpropatrin, tralometrin, sihalometrin, flusitrinate.

Petroleum.
Minyak bumi yang dipakai sebagai insektisida dan miksida. Minyak tanah yang juga digunakan sebagai herbisida.

Dinitrofenol.
Dinitrofenol misalnya morocidho 40EC.
Salah satu pernafasan dalam sel hidup melalui proses pengubahan ADP (Adenesone-5-diphosphate) dengan bantuan energi sesuai dengankebutuhan dan diperoleh dari rangkaian pengaliran elektronik potensial tinggi ke yang lebih rendah sampai dengan reaksi proton dengan oksigen dalam sel. Berperan memacu proses pernafasan sehingga energi berlebihan dari yang diperlukan akibatnya menimbulkan proses kerusakan jaringan.

Fumigant.
Fumigant adalah senyawa atau campuran yang menghasilkan gas atau uap atau asap untuk membunuh serangga , cacing, bakteri, dan tikus. Biasanya fumigant merupakan cairan atau zat padat yang mudah menguap atau menghasilkan gas yang mengandung halogen yang radikal (Cl, Br, F), misalnya chlorofikrin, ethylendibromide, naftalene, metylbromide, formaldehid, fostin.

Antibiotik.
Misalnya senyawa kimia seperti penicillin yang dihasilkan dari mikroorganisme ini mempunyai efek sebagai bakterisida dan fungisida.

      Pada umumnya pestisida bersifat kontak dan petani dianjurkan untuk menghindari kontak secara langsung saat melakukan penyemprotan dilapangan.
Karena sifat dari jenis racun tertentu dapat berpotensi menimbulkan keracunan yang sangat cepat.
Oleh sebab itulah menggunakan perlengkapan penyemprotan sangat dianjurkan.
Karena dapat mengurangi risiko iritasi pada kulit dan terhirupnya embun pestisida.
Jenis pelengkapan pelindung diri yang dibutuhkan adalah sebagai berikut.
1).      Alat pelindung kepala dengan topi atau helm kepala.
2).      Alat pelindung mata, kacamata diperlukan untuk melindungi mata dari percikan, partikel melayang, gas-gas, uap, debu yang berasal dari pemaparan pestisida.
3).      Alat pelindung pernafasan adalah alat yang digunakan untuk melindungi pernafasan dari kontaminasi yang berbentuk gas, uap, maupun partikel zat padat.
4).      Pakaian pelindung, dikenakan untuk melindungi tubuh dari percikan bahan kimia yang membahayakan.
5).      Alat pelidung tangan, alat ini biasanya berbentuk sarung tangan, untuk keperluan penyemprotan sarung tangan yang digunakan terbuat dari bahan yan kedap air serta tidak bereaksi dengan bahan kimia yang terkandung dalam pestisida.
6).      Alat pelindung kaki, biasanya berbentuk sepatu dengan bagian atas yang panjang sampai dibawah lutut, terbuat dari bahan yang kedap air, tahan terhadap asam, basa atau bahan korosif lainnya.

Kesimpulan.
Pestisida yang termasuk ke dalam golongan organofosfat antara lain : Azinophosmethyl, Chloryfos, Demeton Methyl, Dichlorovos, Dimethoat, Disulfoton, Ethion, Palathion, Malathion, Parathion, Diazinon, Chlorpyrifos.
Gejala keracunan organofosfat sangat bervariasi. Setiap gejala yang timbul sangat bergantung pada adanya stimulasi asetilkholin persisten atau depresi yang diikuti oleh stimulasi saraf pusat maupun perifer. Gejala awal seperti salivasi, lakrimasi, urinasi dan diare (SLUD) terjadi pada keracunan organofosfat secara akut karena terjadinya stimulasi reseptor muskarinik sehingga kandungan asetil kholin dalam darah meningkat pada mata dan otot polos.
Hasil pemeriksaan aktifitas kholinesterase darah dapat digunakan sebagai penegas (konfirmasi) terjadinya keracuan pestisida pada seseorang. Sehingga dengan demikian dapat dinyatakan pula bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya keracunan juga merupakan faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya aktifitas kholenisterase darah. Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian keracunan pestisida adalah faktor dalam tubuh (internal) dan faktor dari luar tubuh (eksternal). Pengetahuan tentang pestisida yang disertai dengan praktek penyemprotan akan dapat menghindari petani saat menyemprot dari keracunan.

Saran.
Pada saat pelaksanaan penyemprotan  banyak terjadi kasus keracunan, oleh sebab itu petani di wajibkan memakai alat pelindung diri yang lengkap setiap melakukan penyemprotan, agar tidak melawan arah angin atau tidak melakukan penyemprotan sewaktu angin kencang, hindari kebiasaan makan-minum serta merokok di waktu sedang menyemprot, setiap selesai menyemprot dianjurkan untuk mandi pakai sabun dan berganti pakaian serta pemakaian alat semprot yang baik dapat menghindari terjadinya keracunan.

    Demikianlah sedikit informasi mengenai pestisida.
Semoga bermanfaat dan sukses.
Sekian dan terimakasih.

Umpan ikan Tapah

     Tapah adalah salah satu spesies ikan air tawar dan termasuk dari keluarga Siluridae. Ikan ini dapat ditemukan di benua Asia tropika yaitu Pakistan, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia.
Di Indonesia sendiri dapat ditemukan di hampir seluruh aliran sungai di pulau Sumatra yaitu di sungai kampar dan siak (Riau), sungai batanghari, (Jambi) sungai musi (Sumsel) sungai wampu (Sumut) dan terdapat di beberapa aliran sungai di pulau Kalimantan.
Ikan tapah menyukai tinggal di aliran sungai yang berlumpur dan bersembunyi di dalam lubang di tebing-tebing tepian sungai untuk mempertahankan diri di dasar sungai.

      Ikan tapah adalah jenis ikan predator handal. Ikan dewasa akan memangsa krutasia, moluska, serangga dan ikan-ikan yang lebih kecil dari berat badan tubuhnya. Berikut adalah klasifikasi ilmiahnya.

        Klasifikasi ilmiah
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Siluriformes
Famili : Siluridae
Genus : Wallago
Nama bional Wallago mcropogon.

     Ikan tapah memiliki fisik panjang dan padat, berkepala lebar, bermulut besar berlekuk, berwarna hitam, bergigi tajam, bermata kecil dan berkumis. Ikan ini dapat mencapai 2.5 meter panjangnya. Ikan ini memiliki taji (patil) beracun serta terdapat di antara kedua siripnya dan satu diatas punggungnya.
Nama tapah diambil dari bahasa melayu dan dikenal dengan nama yang sama di negara serumpun.
Berikut ini adalah trik jitu umpan tapah yang sangat sederhana dan mudah didapat.

      Ikan seluang adalah jenis ikan pemakan tumbuhan dan daging. Ikan ini adalah sekelompok ikan terbawah di dalam susunan rantai makanan.
Oleh sebab itu ikan menjadi makanan utama ikan tapah, sebarau(ampala), baung dan toman.

     Demikian sedikit informasi mengenai umpan tapah. Semoga bermanfaat dan sukses.

Cara membuat rotan 3

      Rotan 3 merupakan inovasi teknologi pertanian ramah lingkungan dan penerapannya sangat baik bagi tanaman.
Bakteri aerob dan bakteri anaerob serta fungi atau jamur dapat digabung menjadi sebuah komposisi yang sangat berguna bagi tanaman, pengembangan ini dikenal dalam ilmu berbasis microbiologi. Komposisi bahan baku membuat rotan 3 adalah rotan 2 + trichoderma + micoriza + Bakteri nitrifikasi.
Arti Rotan 3 itu sendiri adalah ramuan organik tanaman atau bahasa kerennya petani adalah probiotik generasi ketiga. Yaitu pengembagan dari pembuatan probiotik organik sebelumnya yang dapat dibuat sendiri dengan mudah dan sangat sederhana.
Berikut adalah Cara memperbanyak rotan 3.
      Bahan-bahan;
1.Gula; 1/4 kg
2.Dedak/ Bekatul; 1 kg
3.Tepung ikan; 2 s/d 3 sdm
4.Kentang; 1/4 kg

Cara membuat;
1. Campur gula dan dedak dengan 3 liter air, kemudian di rebus. (Tambahkan lagi air, agar sisa air setelah direbus jadi 3 liter)
2. Rebus dan haluskan kentang sampai benar lembut, kemudian haluskan dengan 1 liter air.
3. Campurkan semua bahan dalam keadaan benar-benar dingin.
4. Masukkan Rotan 3.
5. Campur sampai benar-benar merata.
6. Tutup wadah dengan kain tebal.
7. Sisakan ruang dalam wadah kurang dari 10% (tidak boleh lebih dari 10%).
8. Simpan di tempat yang teduh dan terhindar dari paparan sinar matahari secara langsung.

    Demikian sedikit informasi mengenai cara membuat dan memperbanyak rotan 3. Semoga bermanfaat dan sukses.

17 April, 2016

Umpan jitu ikan patin


     Patin adalah sekelompok ikan berkumis dari ordo Siluriformes yang termasuk dalam genus Pangasius, familia Pangasiidae. Nama "patin" juga disematkan pada salah satu anggotanya, P. nasutus.
Kelompok ikan ini adalah kelompok ikan yang banyak dibudidayakan oleh petani.
Kelompok patin secara umum bernilai ekonomi, seperti patin siam (P. hypophthalmus. P. sutchi. Dari beberapa anggotanya ditemukan hidup di aliran Sungai Mekong dan ditemukan berukuran sangat besar hingga mencapai panjang dua meter lebih.

     Patin siam atau disebut dengan Pangasius hypophthalmus adalah ikan budidaya dan akuarium paling populer. Ikan ini dikenal juga dengan sebutan jambal siam, lele bangkok, dan hiu bangkok. Dalam bahasa perdagangan internasional dikenal sebagai siamese shark, sutchi catfish, atau pangasius.
Secara taksonomi, Pangasius hypophthalmus dan patin raksasa Mekong (P. gigas), dimasukkan ke dalam marga Pangasianodon. Pangasianodon dapat pula dianggap sebagai marga tersendiri, sehingga penyebutan Pangasianodon hypophthalmus juga dapat diterima.
Berikut adalah klasifikasi ilmiahnya.

Klasifikasi ilmiah
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Siluriformes
Famili : Pangasiidae
Genus : Pangasius
Spesies : P. hypophthalmus
Nama binomial
Pangasius hypophthalmus

     Ikan patin dan keluarganya pada umumnya ditemukan dibeberapa sungai besar di Indocina, seperti DAS Mekong dan Chao Phraya, namun sekarang telah banyak dibudidayakan dibeberapa negara seperti Indonesia digunakan sebagai ikan konsumsi. Perdagangan filet patin dikenal cukup tinggi kuantitasnya. Mereka dikenal sebagai omnivora, dengan memakan krustasea kecil, ikan lain dan dari sisa-sisa tanaman.

     Di Indonesia sendiri penyebarannya cukup luas dan hampir banyak ditemukan dialiran sungai di pulau Sumatera.
Ikan patin paling banyak menginfansi aliran sungai Batang Hari dan sungai Musi.
Karena banyak ditemukannya tambak dan kolam milik petani yang pecah akibat banjir.
Oleh sebab itu para pemancing banyak yang memburu ikan ini dengan berbagai jenis alat tangkap dan salah satunya menggunakan alat pancing.
Berikut adalah cara sederhana untuk membuat umpan kail sebagai alat untuk menangkap.
     Bahan-bahan;
  • Tepung Aci/kanji/tapioka ½ gelas.
  • Tepung Terigu ½ gelas
  • Telur 1 butir
  • Pelet patin 781 = 1 genggam
  • Pelet udang = setengah genggam.
  • Bawang goreng di gerus / ditumbuk.
  • Terasi ½ kemasan abc

Cara membuat;
Campur semua bahan kecuali telur kedalam wadah, kemudian pisahkan telur dari cangkangnya, lalu masukan kedalam wadah yang sama, setelah itu di remas-remas sampai membentuk adonan, setelah semua selesai digoreng sampai matang (cara menggorengnya seperti membuat bakwan).
Cara penggunaan;
Ambil sedikit umpan dan kaitkan kekail hingga menutupi semua kail.

   Demikian sedikit informasi mengenai cara membuat umpan jitu untuk Patin.
Semoga bermanfaat dan sukses.

Cara membuat umpan ikan baung

     Memancing ikan adalah hobi yang sangat menyenangkan. Karena hobi ini dapat melatih kesabaran seseorang.
Bagi petani yang ingin melepaskan penat karena seharian bekerja diladang. Maka petani bisa memancing disungai.
Berikut ini adalah penjelasan dan beberapa ramuan untuk membuat umpan ikan baung.

     Ikan baung bersifat noktural. Artinya hampir segala aktivitas kegiatan dalam hidupnya (mencari makan) lebih banyak dilakukan pada malam hari.

Selain itu, ikan baung memiliki sifat suka bersembunyi di dalam liang-liang (lubang) di tepi-tepi sungai tempat habitat hidupnya. Di alam bebas ikan baung termasuk dalam golongan ikan pemakan segala (omnivora).
Namun ada persepsi lain  yang menggolongkan ikan baung kekelompok carnivora, sebab ikan ini lebih dominan memakan hewan-hewan kecil seperti ikan-ikan kecil .

     Ikan baung adalah jenis ikan air tawar dan berhabitat dari muara sungai sampai ke bagian hulu sungai.
Bahkan disumatera bagian selatan, ikan baung ditemukan sampai ke muara sungai yang airnya sedikit payau.
Selain itu, ikan ini juga banyak ditemui di tempat-tempat yang letaknya di daerah banjir.
Secara umum, baung berhabitat sebagai ikan yang hidup di perairan umum seperti sungai, rawa, situ, danau, dan waduk.
Berikut adalah klasifikasi ilmiah ikan baung.

    Klasifikasi ilmiah
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Siluriformes
Famili : Bagridae
Genus : Hemibagrus
Species : Mystus nemurus
Bagrus nemurus.

    Ikan baung adalah nama ikan air tawar dan termasuk ke dalam marga Hemibagrus, suku Bagridae.
Ikan baung menyebar luas di Cina Selatan, India dan Asia Tenggara termasuk wilayah Indonesia bagian tengah dan barat.
Ikan baung dikenal luas di Indonesia dengan banyak nama daerah dan kearifan lokal setempat seperti;
Ikan duri, baong, baon ( Suku Melayu), Ikan bawon (Suku Betawi),
Ikan senggal atau singgah (Suku Sunda),
Ikan tagih atau tageh (Suku Jawa.),
Ikan niken, siken, tiken, tiken bato (Provinsi Kalimantan tengah), dan lain-lain.

    Ikan baung masih sekerabat dengan lele atau dari bangsa Siluriformes dan dari marga Hemibagrus serta berasal dari bahasa Latin hemi yang berarti “setengah” atau “separuh”, dan bagrus diambil dari kata bagre berasal dari kata  yunani pagros, yaitu nama ikan dari laut.

   Ikan baung dari spesies H. hoeveni banyak ditemukan di Sungai-sungai di Indonesia yaitu terdapat di sungai Kapuas dan Baram (Kalimantan bagian barat), Musi dan Batanghari (Sumatra bagian selatan), serta lembah sungai Muar, Semenanjung Malaya.
Namun ikan baung dari spesies H. velox juga pernah ditemukan di sungai-sungai di Sumatra tengah.

     Nama Baung juga digunakan untuk menyebut ikan lain dari bantuk serupa yaitu dari suku Bagridae dan tergolong bukan dari marga Hemibagrus seperti;
Baung burai : Pseudomystus stenomus
Baung duri : Leiocassis poecilopterus
Baung layar : Bagrichthys hypselopterus
Baung lebang :  Pseudomystus fuscus
Baung tikus : Bagroides melapterus

Cara membuat umpan pancing ikan baung :

  Resep umpan ikan baung 1;
      Bahan-bahan;
•  Siapkan usus ayam sesuai kebutuhan
• 2 Butir telur itik (yang akan di ambil kuningnya)
• Lemak (lemak sapi, lemak kambing)
• Kapas secukupnya.

     Cara membuat :
   Masukkan beberapa usus kedalam suatu wadah.
Campur dengan kuning telor bebek.
Tambahkan Lemak sapi atau kambing.
Tutup wadah dan timbun kedalam tanah.
Biarkan kurang lebih 3 hari 3 malam.
Gunakan kapas tersebut untuk membuat umpan dengan cara : masukan kapas kedalam ramuan umpan tadi bertujuan untuk mengambil aroma umpan atau bisa juga usus langsung di kaitkan di mata kail.

Resep umpan ikan baung 2;   
    Bahan-bahan;
• Tepung Ikan 1 bungkus
• 2 Butir Kunig telur itik (sudah direbus)
• Pelet udang 25 gram
• 2 bungkus terasi
• Kapas secukupnya
• Air Secukupnya

       Cara membuat :
    Masukan semua bahan dan campur jadi satu, tambahkan air secukupnya, dan lumatkan hingga semua bahan tercampur rata. Gunakan kapas untuk umpan agar umpan tidak hancur ketika di pakai.

       Resep umpan ikan baung 3;
• Tepung kanji (aci) ½ gelas.
• Terigu ½ gelas.
• Telur 1 butir.
• Pelet patin 781 = 1 genggam + pelet udang = setengah genggam.
• Bawang goreng di gerus / ditumbuk.
• Terasi (belacan) ½ kemasan abc

    Cara membuat ;
Campur semua bahan sampai merata dan kalis.
Setelah itu goreng matang.

Penjelasan resep ke 3.
Pembuatan pakan. Buatlah seperti bagaimana membuat kue bakwan.

    Umpan alternatif ikan baung alami  
     Pada dasarnya semua ikan suka dengan makanan alami, karena habitat mereka sebenarnya di alam bebas tidak ada ramuan umpan apapun.
Nah untuk itu petani dapat memanfaatkan umpan alami sebagai umpan mancing ikan baung seperti.
Cacing Tanah.
Ikan-ikan kecil.
Udang-udang kecil.
Jangkrik.
Ulat Daun Pisang.
Kroto.
Laron.
Remis.
Insekta.
Molusca dan rumput.

     Demikianlah sedikit informasi mengenai beberapa penjelasan dan umpan ikan baung.
Semoga bermanfaat dan sukses.
Sekian dan terimakasih.