18 August, 2019

Senyawa pupuk dolomite

        Dolomit merupakan suatu bentuk mineral karbonat anhidrat yang terbentuk dari kalsium magnesium karbonat atau dengan istilah CaMg(CO3)2.
Istilah tersebut digunakan juga pada suatu bentuk sedimen batuan karbonat yang sebagian besar terbentuk dari mineral dolomit,  sebutan penamaan untuk jenis batuan dolomit sering disebut dengan nama dolostone. 

         Menurut perjalanannya kemungkinan besar dari mineral dan dolomit pertama kali dijelaskan oleh Carl Linnaeus pada tahun 1768. Pada tahun 1791 mineral dolomit digambarkan sebagai batu oleh naturalis dan geologis Déodat Gratet de Dolomieu Prancis (1750-1801), yang pertama di bangunan kota tua Roma, dan kemudian dijadikan sebagai sampel yang dikumpulkan di pegunungan yang sekarang dikenal sebagai Dolomit Alpen di bagian utara Italia. Nicolas-Théodore de Saussure pertama kalinya menamakan mineral tersebut pada bulan Maret 1792 setelah Dolomieu. Sifat Mineral dolomit mengkristal dalam sistetrigonal-rombohedral. Mineral dolomit membentuk kristal putih, cokelat, abu-abu atau merah muda. Dolomit adalah karbonat ganda, memiliki susunan struktural kalsium dan magnesium yang berselang-seling. Dolomit tidak cepat larut atau berefervesen (mendesis) dalam asam kloridaencer seperti kalsit. Karena Pengembaran kristal adalah sesuatu yang biasa. Terdapat larutan padat antara dolomit,  ankerit yang didominasi oleh besi dan kutnohorit yang didominasi oleh mangan.
Struktur besi yang kecil memberikan kristal berwarna kuning dan coklat. Kandungan mangannya  mencapai 3% Mn0. Kandungan mangan yang tinggi dapat memberikan warna pink kemerahan pada kristal. Timbal, seng, dan kobalt juga menggantikan magnesium dalam strukturnya. Mineral dolomit berhubungan erat dengan huntit Mg3Ca(CO3)4.
Dolomite dapat dilarutkan dengan air yang sedikit asam, area dolomit penting sebagai akuiferdan, kontribusinya dialam berguna untuk pembentukan medan karst.
Pembentukan dolomit modern ditemukan terjadi di bawah kondisi anaerobik di laguna air asin super jenuh di sepanjang pantai Rio de Janeiro Brasil, Yaitu Lagoa Vermelha dan Brejo do Espinho. Dolomit sering dianggap hanya akan berkembang dengan bantuan bakteri pereduksi sulfat atau misalnya Desulfovibrio brasiliensis. Namun dolomit dalam suhu rendah dapat terjadi di lingkungan alami yang kaya akan bahan organik dan sel mikrobial permukaan. Hal ini terjadi akibat kompleksasi magnesium oleh gugus karboksil yang terkait dengan bahan organik.

        Dolomit sering digunakam sebagai batu hias, agregat beton, dan sumber magnesium oksida, seperti proses Pidgeon untuk produksi magnesium. Hal ini merupakan batuan reservoir minyak bumi penting, dan bertindak selaku batuan induk deposit biji logam dasar Mississippi Valley-Type (MVT) seperti timbal, seng, dan tembaga. Ketika batu gamping kalsit langka atau terlalu mahal, dolomit kadang digunakan sebagai pengganti flux untuk peleburan besi dan baja. Namun sebagian besar dolomit olahan digunakan dalam produksi kaca apung.

       Dalam hortikultura, dolomit dan batu kapur, dolomit ditambahkan ke tanah dan campuran pot nirtanah sebagai dapar pH dan sebagai sumber magnesium. Rumah dan wadah berkebun adalah contoh umum penggunaannya.
Dolomit juga digunakan sebagai substrat pada akuarium air laut (air asin) untuk membantu mendapar perubahan pH air.
Dolomit yang dikalsinasi juga digunakan sebagai katalis untuk destruksi tar dalam gasifikasibiomassa pada suhu tinggi.
Peneliti partikel fisika ingin membangun detektor partikel di bawah lapisan dolomit untuk memungkinkan detektor mendeteksi sebanyak mungkin partikel eksotis. Karena dolomit relatif mengandung bahan radioaktif berskala kecil p dan dapat mengisolasi gangguan sinar kosmik tanpa menambah tingkat radiasi latar.

25 July, 2019

Minyak daun cengkeh Pengendali kutu putih/kebul

         Minyak Atsiri yang dihasilkan dari penyulingan tanaman cengkeh, merupakan salah satu dari jenis minyak atsiri  yang mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi.  Seluruh bagian tanaman cengkeh mengandung  minyak,  namun kandungan minyak terbanyak terdapat pada bunga. Penyulingan minyak cengkeh biasanya petani menggunakan metode sangat sederhana,  yakni dengan mengumpulkan runtuhan  daun dan ranting.  

        Pada abad ke 16 Philippus Aureolus Paracelsus seorang pembaharu ilmu kedokteran asal Swiss,  memperkirakan bahwa tanaman cengkeh  bau harumnya didapatkan dari kandungan senyawa tertentu.  Philip menyebutnya Quinta essential.  Hipotesanya menjadi dasar lahirnya industri minyak atsiri di Eropa.  Sejarah penjajahan bangsa Belanda di Indonesia berpengaruh besar terhadap perkembangan minyak atsiri dan menjadi dasar produksi untuk pertama kalinya. Ketika itu di Eropa,  minyak atsiri yang paling populer adalah minyak hasil penyulingan dari bunga lavender.  Kehadiran minyak cengkih ke Eropa menjadi dasar penyulingan tanaman yang berbau harum untuk diambil minyaknya. 

       Minyak cengkeh digunakan diberbagai industri farmasi, parfum, penyedap rasa,  anti jamur, anti bakteri dan racun.  Minyak cengkeh juga dapat digunakan sebagai bius ikan atau sebagai pengganti sianida,  sehingga tindakan penangkapan ikan hidup dapat lebih ramah terhadap lingkungan. Sebuah studi yang dilakukan di University Kuwait menemukan bahwa minyak cengkeh memiliki aktivitas setara dengan benzocain sebagai pereda rasa nyeri dalam mulut. 

‌         Minyak cengkih mengandung eugenol sebanyak 78 - 98%.  Zat tersebut dihasilkan dari kelenjar minyak yang terdapat pada permukaan tubuh bunga cengkih. Secara keseluruhan daun dan ranting cengkih mengandung eugenol dengan konsentrasi lebih banyak dibandingkan bunga cengkih. Pada minyak yang dihasilkan dari daun cengkih terdapat 82 - 88% eugenol dan pada ranting mencapai 90-95%. Dibandingkan minyak dari bunga cengkih yang hanya mengandung 60-90% eugenol, sisanya adalah eugenyl asetat, caryophyllene, dan senyawa minor lainnya. S‌ekarang ini Indonesia dan Madagaskar merupakan produsen utama minyak cengkih.

           Menurut Balai penelitian tanaman obat dan aromatik,  bogor,  menunjukkan minyak daun cengkih dapat mengendalikan serangan kutu kebul / putih atau yang bernama latin planococcus minor.  Kutu kebul merupakan vektor penyakit kerdil pada tanaman lada.  
Penyemprotan pada bibit  dengan minyak daun sirih dengan konsentrasi 5% dengan frekuensi  2 kali dalam seminggu dapat menyebabkan kematian pada kutu kebul hingga mencapai 90%. Karena minyak  daun cengkeh mengandung senyawa eugenol yang bersifat toksik bagi kutu kebul.  Dengan begitu lada dapat tumbuh dengan sebutan hingga 100℅. 

‌          Minyak cengkih dimuat dalam novel Perfume karangan Patrick Süskind. Dalam novel tersebut, disebutkan bahwa minyak cengkih merupakan salah satu campuran untuk menghasilkan minyak wangi beraroma kuat hingga mampu membangunkan orang yang pingsan.



04 March, 2018

Cara membuat Probiotik tanaman

     Probiotik merupakan istilah mikro organisme hidup yang mengandung mikroba (bakteri baik). Penggunaan probiotik sudah banyak diterapkan untuk manusia dan hewan yang berguna untuk kekebalan tubuh. Mikroba probiotik berguna untuk mengubah gula (termasuk laktosa) dan karbohidrat menjadi asam laktat.
Beberapa jenis Produk probiotik, umumnya mengandalkan spesies dari genera Bifidobacterium dan Lactobacillus seperti;
Bifidobacterium bifidum.
Bifidobacterium breve.
Bifidobacterium infantis.
Bifidobacterium longum.
Lactobacillus acidophilus.
Lactobacillus casei.
Lactobacillus plantarum.
Lactobacillus reuteri.
Lactobacillus rhamnosus.
Lactobacillus GG.
Namun sering juga produk probiotik menggunakan spesies ragi yaitu Saccharomyces boulardi.

      Bakteri Asam Laktat (BAL) dapat hidup sama baiknya di lingkungan yang terdapat oksigen (O₂) dan dilingkungan yang tidak ada oksigen (O₂), sehingga termasuk anaerob aerotoleran.
Bakteri Asam Laktat (BAL) memiliki beberapa karateristik tertentu yaitu tidak memiliki porfirin dan sitokrom, katalase negatif, tidak melakukan fosforilasi transpor elektron dan hanya mendapatkan energi dari fosforilasi substrat.
Hampir semua jenis BAL memperoleh energinya dari metabolisme gula, sehingga pertumbuhan dihabitatnya menjadi terbatas, sebab tersedianya gula dalam habitatnya digolongkan kedalam lingkungan yang kaya akan nutrisi bagi kehidupan bakteri itu sendiri.
Sedangkan BAL berkemampuan untuk mengahasilkan senyawa (biosintesis) asam amino, vitamin, purin, pirimidin dan sifatnya hanya terbatas.

       Bagi kehidupan manusia Bakteri Asam Laktat diketahui dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain dengan memproduksi protein yang disebut bakteriosin. Salah satu contoh bakteriosin yang dikenal luas adalah nisin, diproduksi oleh Lactobacillus lactis ssp. lactis.
Nisin dapat menghambat pertumbuhan beberapa bakteri yaitu Bacillus, Clostridium, Staphylococcus, dan Listeria.
Senyawa bakteriosin yang diproduksi BAL dapat bermanfaat, karena dapat menghambat bakteri patogen yang dapat merusak makanan Manusia dan membahayakan jiwa manusia itu sendiri.
Selain bakteriosin, senyawa antimikroba yang dapat diproduksi oleh BAL adalah hidrogen peroksida, asam lemah, reuterin dan diasetil. Senyawa-senyawa tersebut berfungsi untuk memperlama masa simpan dan meningkatkan keamanan produk pangan.
BAL dapat menghasilkan hidrogen peroksida (H₂O₂) untuk melindungi selnya terhadap keracunan oksigen. Namun H₂O₂ dapat bereaksi dengan senyawa lain (contohnya tiosianat endogen dalam susu mentah) hingga menghasilkan senyawa penghambat mikroorganisme lain. Mekanisme ini disebut sebagai sistem antimikroba laktoperoksidase.
Asam laktat dan asam lemah lain yang dihasilkan BAL dapat memberikan efek bakterisidal untuk bakteri lain karena pH lingkungan dapat turun menjadi 3-4,5. Pada pH tersebut, BAL tetap dapat hidup sedangkan bakteri lain, termasuk bakteri pembusuk makanan yang merugikan akan mati. Reuterin adalah senyawa antimikrobial efektif untuk melawan berbagai jenis bakteri (bersifat spektrum luas), yang diproduksi oleh Lactobacillus reuteri selama pertumbuhan anaerobik terjadi dengan keberadaan gliserol.

     Bakteri Asam Laktat (BAL) dapat mengurangi jumlah bakteri patogen secara efektif pada hewan ternak, contohnya bakteri jahat E. coli O157 dan Salmonella.
Selain itu Bakteri Aasam Laktat juga digunakan untuk meningkatkan nutrisi pada tumbuhan/tanaman.
Oleh sebab itulah probiotik tidak dapat dilepaskan dari dunia pertanian, perikanan dan perternakan.
Berikut adalah cara sederhana untuk membuat probiotik tanaman;

Bahan-bahan;
• Biang probiotik : 500 ml.
• Kencing kelinci/sapi : 500 ml.
• Gula pasir : 500 gram.
• Tetes tebu/gula merah : 100 ml.
• Terasi/belacan : 250 gram.
• Air matang 10 l.

Cara membuat;
Masukan semua bahan kedalam wadah dan aduk sampai merata, kemudian simpan kedalam jerigen dan diamkan selama 14 hari dengan tertutup rapat.

Catatan;
Untuk penggunaan gula merah, gulanya harus direbus dengan air terlebih dahulu sampai mencair, setelah gulanya dingin baru dapat digunakan sebagai pengganti molase (tetes tebu).
Gula pasirnya cairkan terlebih dahulu sampai benar-benar mencair.
Untuk penggunaan terasi, terasinya harus haluskan terlebih dahulu.
Karena proses pembuatan probiotik dengan cara an-aerob (tidak membutuhkan udara), usahakan setiap 3 hari sekali atau ditemukan pada jerigen plastik dalam keadaan mengembung, akibat dari desakan udara, maka bukalah tutup jerigen agar gas dalam jerigen dapat keluar, kemudian tutup kembali hingga rapat.

Ciri-ciri keberhasilan;
Aromanya wangi dan sedikit berbau asam seperti bau tape. Kemudian ditemukan jamur yang mengambang dipermukaan larutan.
Jika gagal, maka aroma yang ditimbulkan berbau busuk menyengat. Berwana putih keabu-abuan pekat mengental.

       Demikian sedikit informasi mengenai cara membuat probiotik tanaman. Semoga bermanfaat dan sukses.

18 February, 2018

Shampoo alami dari lidah buaya

         Istilah shampo mulai digunakan pada tahun 1762 yang berarti "memijat". Pada tahun 1860 hingga 1866 yang kemudian diartikan sebagai awal kegiatan mencuci rambut, pada tahun itu pula tercatat untuk pertama kalinya membersihkan rambut menggunakan shampo. Kemudian pada tahun 1954 artinya mulai diperluas penggunaannya sebagai pembersih prabotan, karpet dan sebagainya.

        Shampo dalam bahasa inggris (shampoo) berupa cairan seperti sabun yang berfungsi sebagai peningkatan tegangan permukaan kulit (umumnya kulit kepala) sehingga dapat meluruhkan kotoran (membersihka). Kegiatan ini disebut dengan keramas (membersihkan rambut). Pada saat keramas dianggab dapat meningkatkan kesehatan rambut atau dianggap juga sebagai perawatan rambut dan kulit kepala agar bersih dari minyak, debu, kulit mati dan semua kotoran yang menempel pada rambut seiring dengan aktivitas yang dilakukan. Beberapa industri kecantikan memproduksi shampo dengan menabahkan kondisioner supaya memudahkan konsumen untuk menata rambutnya kembali. Dalam pengertian ilmiahnya, shampo di definisikan sebagai cairan mengandung surfaktan, bahan ini berguna sebagai bahan pengangkat lemak pada rambut dan kulit kepala. Shampo terbuat dari bahan-bahan alami tumbuhan atau zat-zat kimia. Di era modern saat ini bahan tambahan shampo bermacam-macam yaitu sebagai pembersih ketombe, rambut kering dan sebagainya. Namun terdapat beberapa jenis bahan shampo yang dapat menimbulkan alergi pada kulit. Penggunaan shampo untuk anak-anak dan bayi sangat tidak dianjurkan menggunakan shampo untuk orang dewasa. Produsen pembuat shampo bayi dan anak-ank dibuat sedemikian rupa agar tidak pedih dimata. Namun jika shampo untuk manusia digunakan pada hewan peliharaan menjadi sangat beracun bagi hewan tersebut. Karena tedapat beberapa produk shampo yang mengandung seng (Zn), logam ini sangat berbahaya dan beracun bagi hewan. Sedangkan shampo untuk hewan peliharaan mengandung insektisida yang berguna membunuh kutu. Peranan shampo pada dasar sebagai peluruh atau membersihkan secara menyeluruh (clarifying shampoo) biasanya mengandung asam (acid) dari cuka, apel dan lemon. Asam tersebut berguna sebagai peluruh residu atau membersihkan sisa produk perawatan semacam creambath, busa untuk rambut (foam), hairspray, lilin rambut (wax), jelly rambut (gel), dan produk lainnya yang tertinggal di kulit kepala. Namun penggunaannya hanya disarankan 1 minggu sekali. Syarat mutlak shampo yang baik di gunakan adalah sebagai berikut;

1. Shampo harus membentuk busa yang berlebih atau terbentuknya busa lebih cepat, lembut dan mudah dihilangkan dengan membilas dengan air.

2. Shampo harus mempunyai sifat detergensi yang baik dan tidak berlebihan, bila sifat detergenasinya berlebih akan membuat kulit kepala menjadi kering.

3. Shampo harus dapat menghilangkan segala kotoran pada rambut, tetapi dapat mengganti lemak natural yang ikut tercuci dengan zat lipid yang ada di dalam komposisi shampo. Kotoran rambut yang dimaksud tentunya sangat kompleks yaitu : sekret dari kulit, sel kulit yang rusak, kotoran yang disebabkan oleh lingkungan dan sisa sediaan kosmetika.

4. Tidak mengiritasi kulit kepala dan mata.

5. Shampo harus tetap stabil dan Shampo yang dibuat transparan tidak boleh menjadi keruh dalam penyimpanan. Viskosita dan pH-nya juga harus tetap konstan, shampo harus tidak terpengaruh oleh wadahnya ataupun jasad renik dan dapat mempertahankan bau parfum yang ditambahkan ke dalamnya.

         Produk shampo dibuat dengan beberapa jenis yaitu berbentuk larutan, bubuk, emulsi dan krim atau pasta. Berikut adalah penjelasan singkatnya.

1. Shampo larutan Larutannya berbentuk cair dan jernih dan formulasinya meliputi viskositas, warna, kaharuman dan pembentukan dan stabilitas busa serta keawetan. Zat pengawet yang digunakan adalah jenis pengawet yang sangat lazim digunakan yaitu larutan formaldehida seabanyak 0,2% dan 40%nya garam fenilrakasa. Namun penggunaan kedua jenis zat ini dilarang pemerintah, karena sangat beracun, maka penggunannya didalam pengawasan yang telah ditetapkan oleh pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kandungan parfum sebanyak 0,3% - 1,0%, namun umumnya berkadar 0,5%.

2. Shampo Bubuk Berbentuk tepung dan sebagai zat pelarut Natrium karbobat, Natrium bikarbonat, Natrium seskuikarbonat,Dinatrium fosfat dan Boraks. Shampo bubuk dapat dikombinasikan dengan pewarna rambut alami hena atau kamomil, sehingga dapat memberikan efek warna tersendiri pada rambut. Bila shampo bubukdalam air sadah dapat berbusa, maka bisa di ganti dengan Natrium laurilsulfat.

3. Shampo Emulsi Struktur shampo jenis ini mudah dituang. Karena konsistensinya tidak terlalu kental. Namun tergantung dari zat yang terkandung didalamnya. Jenis shampo ini di pasarkan dan di beri nama seperti shampo lanolin, shampo telur, shampo protein, shampo brendi, shampo susu, shampo lemon atau shampo strawberry.

4. Shampo krim (pasta) Bahan penggunaan shampo krim adalah Natrium alkilsulfat dari jenis alkohol berantai sedang yang dapat memberikan konsistensi kekentalan. Sebagai bahan pengental dapat juga menggunakan malam seperti stilalkohol dan penggunaan dietanolamida dari minyak kelapa atau isopropanolamida laurat.

        Lidah buaya dapat juga digunakan sebagai bahan dasar shampo alami dan sangat cocok digunakan sebagai bahan dasar conditioner. Lidah buaya adalah tumbuhan yang dapat memberikan manfaat yang sangat baik bagi rambut dan kulit kepala, karena lidah buaya kaya akan multivitamin seperti vitamin A, C, E, antibacterial, antimikroba dan antioksidan. Pada era modern saat ini produk shampo yang berbahan dasar lidah buaya selalu di kombinasikan dengan bahan-bahan kimia. Alangkah baiknya penggunaannya lidah buaya diaplikasikan secara mandiri agar tidak mengurangi kealamiannya dan memperburuk kondisi rambut. Manfaat lidah buaya secara tidak langsung dapat mencegah rambut rontok atau mencegah kebotakan, dapat mempercepat proses pertumbuhan rambut bagi bayi, mengangkat ketombe dari kulit kepala serta memberikan sensasi adem dan gatal pada kulit kepala. Lidah buaya juga sangat efektif untuk mengangkat minyak berlebih pada rambut dan kulit kepala. Cara membuat shampo alami dari lidah buaya atau Aloe vera dapat dilakukan dengan cara mandiri dan sederhana.

         Pembuatannya dapat dikombinasikan dengan bahan alami lain seperti madu, urang aring, minyak zaitun dan sebagainya. Berikut adalah cara membuatnya.

Bahan-bahan;
Gel lidah buaya ¹/₄ ɡelas
Minyak zaitun
Minyak mawar
Minyak kelapa ¹/₄ ɡelas

Cara membuat;
Panaskan minyak kelapa minyak kelapa, kemudian masukan ɡel lidah buaya, lalu masukan minyak mawar kedalam manɡkuk dan aduk hinɡɡa merata. Cara pemakaian; Gunakan shampo untuk keramas 1 minggu 2 kali.

       Demikian sekilas informasi tentang pembuatan shampo alami dari lidah buaya. Semoga bermanfaat.

29 October, 2017

Cara menyemprot rumput yang baik dan benar / Takaran penggunaan herbisida

    Menyemprot rumput atau gulma di lahan perkebunan atau pertanian menjadi solusi untuk meringankan beban pengerjaan.
Sekarang ini penyemprotan gulma banyak digandrungi dan sudah terbukti mempersempit masa operasional.
Namun yang terjadi dilapangan banyak dijumpai petani menggunakan takaran / dosis tidak sesuai standart.
Maka dari kebiasaan dan pola kerja petani seperti ini harus dapat dirubah, supaya kedepan populasi tumbuh-tumbuhan tidak punah, karena ulah manusia.

      Pada dasarnya gulma yang dianggap sebagai pengganggu bukan tidak memiliki manfaat sama sekali.
Namun setiap spesies tertentu ada yang dapat digunakan sebagai bio ethanol, kosmetika, keperluan farmasi, bahan baku kimia dan pupuk.
   Mulai saat ini gunakanlah pembasmi gulma / herbisida secara baik dan bijaksana.

      Cara kerjanya harus laksanakan pada waktu cuaca cerah dan melihat kondisi arah angin.
Jika menyemprot saat angin bertiup. Maka jangan menyemprotkan herbisida melawan / menghadap arah angin. Namun harus mengikuti arah angin bertiup.
    Untuk takaran / dosis harus ditinjau dari kondisi gulma di kebun dan herbisida disesuaikan dengan sifat gulma.

     Berikut adalah nama produk herbisida serta penggunaan takaran herbisida bersifat glifosat, sistemik dan kontak.
A. Produk herbisida bersifat glifosat seperti Roundup, Rambo dsb.
B. Produk herbisida bersifat sistemik seperti Garlon, Starlon dsb.
C. Produk herbisida bersifat kontak Gramoxone, Noxone dsb.

      Kemudian kondisi gulma dibagi menjadi tiga yaitu ;

1. Gulma ringan.
- Dosis gulma ringan seperti jenis rumput - rumputan, takaran yang dapat diterapkan antara 50 - 70 cc per 15 - 20 liter air.

2. Gulma sedang.
- Dosis gulma sedang seperti jenis gulma berdaun sempit dan gulma berdaun lebar, untuk umur gulma antara 3 - 5 bulan dengan ketinggian 30 - 50 cm. Takaran yang dapat diterapkan antara ±100 cc per 15 - 20 liter air.

3. Gulma berat.
- Dosis berat sedang seperti gulma berdaun sempit dan gulma berdaun lebar, untuk umur yang sangat tua dengan ketinggian mencapai bahu dan kepala orang dewasa. Takaran yang tepat di terapkan antara 120 - 150 cc per 15 - 20 liter air.
Menyemprot gulma berat tidak efektif dilakukan, sebab kerugian  yang paling menonjol adalah kematian gulma  yang tidak maksimal.
Jika di paksakan. Maka penyemprotan ulang hingga 2 sampai 4 kali.

     Jika ingin mendapatkan hasil maksimal dalam penyemprotan.
Maka pencampuran herbisida harus diperhatikan.
Bila menggunakan herbisida bersifat glifosat,kontak dan sistemik.
Semua itu tergantung dari merk dan jenis herbisida itu sendiri.
Pencampuran ini pun terbagi menjadi 2 metode dan perbandingan hasil kematian gulma cukup jauh.
Berikut adalah langkah pelaksanaannya?

1.  Caranya masukkan kurang lebih 2 gelas air bersih kedalam tanki semprotan.
Kemudian masukkan herbisida kedalam tanki semprot.
Setelah semua selasai, tambahkan  lagi air sampai penuh tanki.

2. Cara kedua ini memang lebih rumit . Namun sangat membantu untuk medan berbukit.
Gunakan galon / jerigen ukuran 20 liter.
Masukkan sedikit air kedalam jerigen. Tujuannya untuk memecah 2 jenis herbisida yang akan digunakan.
Kemudian masukkan kedua herbisida yang bersifat glifosat dan kontak secara terpisah kedalam jerigen.
Setelah itu isi jerigen dengan air sampai penuh.
Cara pengerjaannya tinggal tuangkan air herbisida dari jerigen kedalam tanki semprot.

    Keunggulan dari pencampuran kedua sifat herbisida ini sangat efektif membasmi gulma pakis, ilalang dan anak kayu sekaligus.
Kemudian keuntungannya dapat menekan biaya operasional dan upah pekerja.

    Keterangan ;
Untuk mengatasi gulma berdaun sempit seperti ilalang, paitan, tempuyung dll. Herbisida yang digunakan bersifat glifosat seperti round up atau sejenisnya.
Untuk mengatasi gulma berdaun lebar seperti senggani, pakis, kutu babi, anak kayu. Herbisida yang digunakan bersifat kontak atau sistemik, seperti gramoxone, noxone atau sejenisnya dan garlon atau sejenisnya.
Namun hanya gulma kentangan yang paling baik dibasmi oleh herbisida bersifat sistemik.

     Untuk pencampuran herbisida bersifat glifosat bisa juga menggunakan herbisida bersifat sistemik seperti aly dan garlon.
Namun kelemahan dari herbisida bersifat sistemik seperti garlon,  tidak bisa dicampur secara langsung kedalam herbisida bersifat glifosat seperti round up.
Cara pencampurannya harus sendiri-sendiri kedalam tanki semprot.
Contohnya;  masukkan round up, air, lalu garlon kedalam tanki semprot atau pun jerigen sesuai dosis.

Catatan ;
   Untuk penggunaan herbisida kimia harus baca aturan pakai dan menggunakan alat pendukung seperti masker dan pakaian tertutup.
Tanki semprot tidak boleh bocor, karena kulit akan terkelupas / cedera, bila menggunakan herbisida kimia bersifat kontak.

   Demikian sedikit informasi mengenai menyemprotkan herbisida kimia dan mengulas sedikit tentang dosis atau takaran yang baik.

   Gunakan kemajuan teknologi pertanian pada tempatnya, terlebih menggunakan herbisida kimia.
   Jika potret kerusakan alam dimasa depan itu terjadi, maka itu adalah warisan dari tangan-tangan kita sekarang.

Baca informasi lain;
Pertolongan pertama keracunan herbisida.
Panduan budidaya ikan.
Cara mengatasi gulma anak kayu.
Cara membasmi pakis.
Cara membasmi ilalang yang bandel.

   Semoga bermanfaat dan membantu.
            Sekian dan terimakasih.
                

21 October, 2017

Cara membuat Mikoriza

      Mikoriza adalah suatu bentuk simbiosis antara cendawan (fungi) dengan tumbuhan tingkat tinggi (tumbuhan berpembuluh, Tracheophyta), khususnya pada sistem perakaran.
Namun ada juga cendawan yang bersimbiosis dengan cendawan lainnya,
Sedangkan mikoriza adalah sebutan untuk cendawan yang menginfeksi akar tumbuhan.
Simbiosis tersebut adalah bentuk simbiosis mutualisme, meskipun demikian terdapat juga beberapa kasus berupa simbiosis parasitisme lemah.
Mikoriza merupakan gejala umum pada perakaran tumbuhan. Sekitar 90% suku tumbuhan (mencakup sekitar 80% spesies tumbuhan) memiliki asosiasi simbiotik ini. Catatan fosil menunjukkan asosiasi ini telah ada sejak Zaman Karbon.
Nama "mikoriza" adalah serapan dari istilah bahasa Inggris, mycorrhiza, yang juga bentukan dari dua kata bahasa Yunani Kuno: μύκης mýkēs, "jamur", dan ῥίζα rhiza ‚"akar".

      Mikoriza memerlukan akar pada tumbuhan untuk melengkapi daur hidupnya. Sebaliknya, beberapa tumbuhan bahkan ada yang tergantung pertumbuhannya dengan mikoriza. Beberapa jenis tumbuhan tidak dapat tumbuh atau terhambat pertumbuhannya tanpa kehadiran mikoriza di akarnya adalah semaian pinus, biasanya akan gagal tumbuh bila setelah pemindahan tidak ada terbentuknya jaringan mikoriza di sekitar akar. Namun hanya sedikit kelompok tumbuhan yang tidak menjadi simbion yaitu seperti Brassicaceae, Commelinaceae, Juncaceae, Proteaceae, Capparaceae, Cyperaceae, Polygonaceae, Resedaceae, Urticaceae, dan Caryophyllales.
Mikoriza dapat diinokulasi secara buatan. Namun inokulasi mikoriza asing memerlukan bantuan mikoriza lokal, misalnya dengan menambahkan tanah dari tempat asal tumbuhan.
Terdapat dua kelompok mikoriza yaitu ektomikoriza (EcM) dan endomikoriza (EM).

      Endomikoriza terutama akan didominasi oleh mikoriza arbuskular (arbuscular mycorrhizae, AM), selain itu akan ditambah dengan sekelompok mikoriza erikoid dan mikoriza arbutoid yang menginfeksi tumbuhan kelompok Ericoidae.
Semua endomikoriza termasuk ke dalam filum Glomeromycota, misalnya genus Gigaspora, Scultellospora, Acaulospora, Entrophospora, Glomus, dan Sclerocystis. Terdapat sekitar 150 jenis (spesies) spora cendawan AM yang telah dideskripsi. AM tergolong dalam kelompok khusus dari populasi mikoriza yang sangat banyak mengkolonisasi rizosfer yaitu di dalam akar, permukaan akar dan di daerah sekitar akar. Hifa eksternal yang berhubungan dengan tanah dan struktur infeksi seperti arbuskula di dalam akar menjamin adanya perluasan penyerapan unsur-unsur hara dari tanah dan peningkatan transfer hara (khususnya fosfor) ke tumbuhan, sedangkan cendawan memperoleh karbon organik dari tumbuhan inangnya.

      Mikoriza arbuskular (AM, dahulu disebut mikoriza vesikular-arbuskular, VAM) tumbuh dari luar perakaran lalu masuk ke dalam jaringan perakaran dan pada gilirannya memasuki sel-sel perakaran. AM di dalam jaringan akan membentuk arbuskula yaitu meliputi jaringan hifa yang menembus sela-sela sel dan bahkan menembus sel melalui plasmalema. Di dalam sel, hifa akan membentuk vesikula, suatu gelembung-gelembung kecil di sitoplasma. AM sulit ditumbuhkan secara aksenik (media buatan) sehingga MVA dianggap merupakan simbionobligat (wajib).

      Pada dasarnya Mikoriza berfungsi membantu penyerapan unsur hara tanah oleh tanaman. Menurut penelitian adanya mikoriza dapat meningkatkan penyerapan unsur P hingga 25%. Selain itu mikoriza juga berfungsi untuk menghasilkan hormon dan zat pengatur tumbuh seperti auksin, sitokinin dan giberelin.
Fungsi lain dari mikoriza adalah menghasilkan zat antibiotik yang melindungi tanaman dari pathogen akar. Mikoriza juga bisa merangsang aktivitas mikroorganisme tanah yang menguntungkan dan memperbaiki struktur dan agregasi tanah, ada pun fungsi lainnya untuk membangun tanaman agar lebih tahan terhadap kekeringan dengan menginfeksi akar dan memperpanjang hyfa dalam mencari air di dalam tanah.

Cara membuat stater/isolat Mikoriza;
Ambil akar tanaman (boleh apa saja) yg sudah terkontaminasi Micoriza. Biasanya banyak terdapat di lahan yg gersang/tandus/miskin unsur hara. Yang paling banyak sewaktu musim kemarau panjang. Gali tanahnya sedalam 30-40 cm atau jika digali lebih dalam lebih bagus.
Ciri-ciri akar yang terkontaminasi Micoriza akar diselimuti hypa jamur dan akarnya panjang.
Jika sudah dapat sebaiknya Biang Micoriza tersebut di masukan dalam wadah/tempat yang terhindar dari sinar matahari langsung.

Cara memperbanyak Mikoriza;
Pasir/tanah/arang sekam dipanaskan selama 1 – 2 jam, tujuannya agar steril dan miskin unsur hara.
Kemudian masukkan ke dalam pot/polibag/bak plastik sampai ¾ volumenya.
Siapkan benih (apa saja, boleh jagung/cabe/tomat dll) yang sekiranya memiliki akar panjang, baiknya yang sudah berkecambah atau tumbuh 2-3 daun.
Lalu biarkan benih tumbuh sampai berumur 2 minggu dengan melakukan penyiraman secara teratur di tambahkan pupuk organik sedikit.
Kemudian masukkan starter/isolat mikoriza yang berupa akar bermikoriza/spora MVA di sekitar perakaran sebanyak 0,5 – 1 gram.
Pelihara selama 2 bulan, sambil di siram dan boleh diberi pupuk cair yang berkadar P rendah.
Saat masuk bulan ke 3, hentikan penyiraman selama 1 bulan.
Simpan semua biakan/pot/polybag di tempat yang terkena sinar matahari penuh
Potong tumbuhan inangnya, sisakan batangnya saja kurang lebih 1/3 nya
2-3 minggu kemudian Micoriza dan sudah siap di panen.
Pemanenan dilakukan dengan cara membongkar tanaman inang dan mengambil bagian akarnya. Akar lalu dipotong kecil-kecil (± 0,5 cm) dan dicampur dengan media tanamnya. Masukan dalam kantong plastik.
Jika tidak langsung di aplikasikan simpan di tempat yang teduh, lebih bagus di lemari es.

Cara aplikasi ke media tanam;
Caranya membuat lubang tanam sedalam 5-10 cm, kemudian ambil tanahnya dan campurkan dengan mikoriza.
Untuk lahan yang cukup luas bisa langsung di campurkan dengan lahan sewaktu pengolahan tanah ( seminggu sebelum tanam.
Dosis yang digunakan minimal 15 – 20 gram/bibit atau untuk 1 m².
Aplikasi sebaiknya dilakukan pada waktu sore hari (pukul 16.00 – 18.00 WIB).

Catatan;
Sebaiknya pembiakan dibuat sebanyak mungkin dan disesuaikan dengan lahan/media tanam yang akan di tanami.
Aplikasinya hanya digunakan sekali untuk seumur hidup, selama tidak memakai pestisida kimia.

      Demikian sedikit informasi mengenai mengenai cara membuat dan memperbanyak mikoriza.
Semoga bermanfaat dan sukses.

04 October, 2017

Mengenal Bakteria

      Bakteri bersifat kosmopolitan, karena merupakan makhluk hidup yang  paling banyak jumlahnya dan tersebar luas hampir di semua tempat seperti di makanan , tanah, air, udara, dalam tubuh makhluk hidup dan bahkan di tempat yang sangat ekstrim seperti di dalam magma. Bakteri merupakan mikroorganisme uniseluler prokariotik atau inti selnya tidak memiliki membran/selaput inti yang mempunyai diding sel seperti tumbuhan namun umumnya tidak berklorofil.

  Ciri-ciri bakteri;
1. Tubuhnya terdiri atas satu sel (uniselluler).
2. Tidak memiliki membran inti sel (Prokariot).
3. Ukuran tubuhnya rata-rata 1 - 5 mikron.
4. Pada umumnya tidak memiliki klorofil.
5. Memiliki bentuk bermacam-macam.
6. Parasit atau hidup bebas.
7. Hidupnya kosmopolit diberbagai lingkungan dan dinding selnya tidak mengandung peptidoglikan.
8. Dapat hidup di lingkungan keras / ekstrim seperti pada mata air panas, kawah/magma.

Struktur bakteri; 
Struktur bakteri dibagi menjadi dua bagian yaitu;

1. Struktur dasar (dimiliki oleh hampir semua jenis bakteri).
Meliputi: dinding sel, membran plasma, sitoplasma, ribosom, DNA, dan granula penyimpanan.
2. Struktur tambahan (dimiliki oleh jenis bakteri tertentu).
Meliputi kapsul, flagelum, pilus, fimbria, klorosom, Vakuola gas dan endospora.

Struktur Dasar Bakteri;
1. Dinding sel tersusun dari peptidoglikan yaitu gabungan protein dan polisakarida (ketebalan peptidoglikan membagi bakteri menjadi bakteri gram positif bila peptidoglikannya tebal dan bakteri gram negatif bila peptidoglikannya tipis).

2. Membran plasma adalah membran yang menyelubungi sitoplasma tersusun atas lapisan fosfolipid dan protein. Di bagian dalam membran plasma terdapat lekukan-lekukan yang disebut mesosom.

3. Mesosom daerah atau  bagian dalam membran plasma yang mengalami lipatan. Fungsinya diduga sebagai organel respirasi sel. berarti mesosom menggantikan peranan organel mitikondria pada sel eukariotik. Namun keberadaan mesosom itu sendiri masih diperdebatkan sampai sekarang.

4. Sitoplasma adalah cairan sel.  di dalam sitoplasma terdapat organel-organel dari sel seperti ribosom, mitokondria, retikulum endoplasma dan lain sebagainya.

5. Ribosom adalah organel yang tersebar dalam sitoplasma berbentuk bulat-bulat kecil, tersusun atas protein dan RNA. Fungsinya untuk sintesa protein.

6. Granula penyimpanan, untuk menyimpan cadangan makanan yang dibutuhkan.

Struktur tambahan bakteri; 
1. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu, bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air.

2. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. Bentuknya mirip cambuk

3. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel, pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek, kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. Fimbria adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus.

4. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis.

5. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis.

6. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif yang terbentuk jika kondisi lingkungan tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. Endospora mengandung sedikit sitoplasma, materi genetik, dan ribosom. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan, radiasi cahaya, suhu tinggi dan zat kimia. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru.

Bentuk Bakteri
Bentuk dasar bakteri terdiri atas bentuk bulat (kokus), batang (basil),dan spiral (spirilia) serta terdapat bentuk antara kokus dan basil yang disebut kokobasil. Berbagai macam bentuk bakteri :

1. Bakteri Kokus :

a.Monokokus yaitu berupa sel bakteri bulat tunggal.

b.Diplokokus yaitu dua sel bakteri bulat yang berdempetan.

c.Tetrakokus yaitu empat sel bakteri bulat yang berdempetan berbentuk segi empat.

d.Sarkina yaitu delapan sel bakteri bulat yang berdempetan membentuk kubus.

e. Streptokokus yaitu lebih dari empat sel bakteri bulat berdempetan membentuk rantai.

f. Stapilokokus yaitu lebih dari empat sel bakteri kokus berdempetan seperti buah anggur.

2. Bakteri Basil :

a. Monobasil yaitu berupa sel bakteri batang tunggal.

b. Diplobasil yaitu berupa dua sel bakteri batang yang berdempetan.

c. Streptobasil yaitu beberapa sel bakteri basil berdempetan membentuk rantai.

3. Bakteri Spirilia :

a. Spiral yaitu bentuk sel bergelombang.

b. Spiroseta yaitu bentuk sel seperti sekrup

c. Vibrio yaitu bentuk sel seperti tanda baca koma.

Alat Gerak Bakteri

Alat gerak pada bakteri berupa flagellum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. Flagellum memungkinkan bakteri bergerak menuju kondisi lingkungan yang menguntungkan dan menghindar dari lingkungan yang merugikan bagi kehidupannya. Flagellum memiliki jumlah yang berbeda-beda pada bakteri dan letak yang berbeda-beda pula yaitu :

A. Monotrik B. Lofotrik C. Lofotrik D. Peritrik

a. Atrik, tidak mempunyai flagel.
b. Monotrik, mempunyai satu flagel pada salah satu ujungnya.
c. Lofotrik, mempunyai sejumlah flagel pada salah satu ujungnya.
d. Amfitrik, mempunyai flagel pada kedua ujungnya.
e. Peritrik, mempunyai flagel pada seluruh permukaan tubuhnya.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Bakteri

Pertumbuhan pada bakteri mempunyai arti perbanyakan sel dan peningkatan ukuran populasi. Faktor–faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri atau kondisi untuk pertumbuhan optimum adalah :

1. Suhu
2. Derajat keasaman atau pH
3. Konsentrasi garam
4. Sumber nutrisi
5. Zat-zat sisa metabolisme
6. Zat kimia

Hal tersebut diatas bervariasi menurut spesies bakterinya.misalnya berdasarkan kisaran suhu tempat hidupnya bakteri dibagi menjadi 4 golongan :

a. Bakteri psikrofil, yaitu bakteri yang hidup pada daerah suhu antara 0°– 30 °C
b. Bakteri mesofil, yaitu bakteri yang hidup di daerah suhu antara 15° – 55 °C
c. Bakteri termofil, yaitu bakteri yang dapat hidup di daerah suhu tinggi antara 40° – 75 °C
d. Bakteri hipertermofil, yaitu bakteri yang hidup pada kisaran suhu 65 - 114 °C

Penggolongan bakteri berdasarkan sumber oksigen yang diperlukan dalam proses respirasi. Bakteri itu dikelompokan sebagai berikut :

a. Bakteri aerob, yaitu bakteri yang menggunakan oksigen bebas dalam proses respirasinya. Misal: Nitrosococcus, Nitrosomonas dan Nitrobacter.
b. Bakteri anaerob, yaitu bakteri yang tidak menggunakan oksigen bebas dalam proses respirasinya. Misal: Streptococcus lactis
c. Bakteri aerob obligat, yaitu bakteri yang hanya dapat hidup dalam suasana mengandung oksigen. Misal: Nitrobacter dan Hydrogenomonas.
d. Bakteri anaerob obligat, yaitu bakteri yang hanya dapat hidup dalam suasana tanpa oksigen. Misal: Clostridium tetani.  Bakteri ini penyebab penyakit tetanus, oleh karena itu orang yang terkena tetanus diberikan udara yang kaya oksigen untuk mempercepat proses penyembuhannya.
e. Bakteri anaerob fakulatif, yaitu bakteri yang dapat hidup dengan atau tanpa oksigen. Misal: Escherichia coli, Salmonella thypose dan Shigella.

Penggolongan bakteri berdasarkan cara mendapatkan makanan :

a. Bakteri heterotrof
yaitu bakteri yang tidak dapat membuat makanan sendiri. Bakteri heterotrof dibagi lagi menjadi 2 yaitu bakteri saprofit dan parasit. Bakteri saprofit adalah bakteri yang mendapatkan makanan dari sisa-sisa makhluk hidup seperti kotoran, sampah dan bangkai makhluk hidup. Sedangkan bakteri parasit memperoleh makanan dari mengambil makanan makhluk hidup inangnya.

b. Bakteri autotrof
yaitu bakteri yang dapat menyusun zat makanan sendiri dari zat anorganik yang ada. Dari sumber energi yang digunakannya, bakteri autotrof  dibedakan menjadi dua golongan, yaitu: bakteri  fotoautotrof dan kemoautotrof.
Bakteri fotoautrotof  yaitu bakteri yang memanfaatkan cahaya sebagai energi untuk mengubah zat anorganik menjadi zat organik melalui proses fotosintesis. Contoh bakteri ini adalah: bakteri hijau, bakteri ungu.
Bakteri kemoautrotof adalah bakteri yang menggunakan energi kimia yang diperolehnya pada saat terjadi perombakan zat kimia dari molekul yang kompleks menjadi molekul yang sederhana dengan melepaskan hidrogen. Contoh bakteri ini adalah: Nitrosomonas , Nitrosocoocus, Nitrobacter

Cara Perkembangbiakan bakteri

Bakteri umumnya melakukan reproduksi atau berkembang biak secara aseksual (vegetatif = tak kawin) dengan membelah diri. Pembelahan sel pada bakteri adalah pembelahan biner yaitu setiap sel membelah menjadi dua.

Reproduksi bakteri secara seksual yaitu dengan pertukaran materi genetik antara bakteri satu dengan bakteri lainnya. Pertukaran materi genetik disebut rekombinasi genetik atau rekombinasi DNA.

Rekombinasi genetik dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu:

1. Transformasi
adalah perpindahan materi genetik berupa DNA dari sel bakteri yang satu ke sel bakteri yang lain tanpa kontak langsung. Pada proses transformasi saat sel bakteri donor mengalami lisis/hancur akan menyebarkan materi genetik ke lingkungan sebagian dari materi genetik akan bergabung dengan materi genetik bakteri penerima. Diguga transformasi ini merupakan cara bakteri menularkan sifatnya ke bakteri lain. Misalnya pada bakteri Pneumococci yang menyebabkan Pneumonia dan pada bakteri patogen yang semula tidak kebal antibiotik dapat berubah menjadi kebal antibiotik karena transformasi.

2. Transduksi
adalah pemindahan materi genetik bakteri ke bakteri lain dengan perantaraan virus. Selama transduksi, sel bakteri donor terinfeksi oleh virus bakteri / bakteriofage sehinggga bakteri mengalami siklis litik yang diakhiri dengan pecahnya sel bakteri/lisis dan mengeluarkan virus-virus baru hasil reproduksi virus dalam sel bakteri dan virus-virus baru ini juga membawa materi genetik dari bakteri. Virus-virus baru/bakteriofage yang nonvirulen (menimbulkan siklus lisogen) memindahkan materi genetik/DNA yang dibawanya dan bersatu dengan DNA bakteri inangnya. Materi genetik/DNA dari virus ini disebut profag.

3. Konjugasi
adalah pemindahan materi genetik berupa plasmid secara langsung melalui kontak sel dengan membentuk struktur seperti jembatan diantara dua sel bakteri yang berdekatan yang disebut pilus. Umumnya terjadi pada bakteri gram negatif.

Peranan Bakteri Dalam kehidupan manusia

bakteri mempunyai peranan yang menguntungkan maupun yang merugikan.

Bakteri yang menguntungkan adalah sebagai berikut :

1. Pembusukan/penguraian sisa-sisa mahluk hidup contohnya Escherichia colie

2. Pembuatan makanan dan minuman hasil fermentasi contohnya :
Acetobacter pada pembuatan asam cuka
Lactobacillus bulgaricus pada pembuatan yoghurt
Acetobacter xylinum pada pembuatan nata de coco
Lactobacillus casei pada pembuatan keju yoghurt.
3. Berperan dalam siklus nitrogen sebagai bakteri pengikat nitrogen yaitu Rhizobium leguminosarum yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman kacang-kacangan dan Azotobacter chlorococcum.

4. Penyubur tanah contohnya Nitrosococcus, Nitrosomonas dan Nitrobacter yang berperan dalam proses nitrifikasi mengikat Nitrogen bebas di udara dalam bentuk akhir ion nitrat yang dibutuhkan tanaman. Proses nitrifikasi sebenarnya terdiri dari dua tahap yaitu :
Nitritasi : oksidasi amonia (NH3) menjadi nitrit (NO2-) oleh bakteri nitrit. Proses ini dilakukan oleh kelompok bakteri Nitrosomonas dan Nitrosococcus.
Nitratasi : oksidasi senyawa nitrit menjadi nitrat (NO3-) oleh bakteri nitrat. Proses ini dilakukan oleh kelompok bakteri Nitrobacter
5. Penghasil antibiotik contohnya adalah :
Bacillus polymyxa penghasil antibiotik untuk pengobatan infeksi bakteri gram negatif
Bacillus subtilis penghasil antibiotik untuk pengobatan infeksi bakteri gram positif
Streptomyces griseus penghasil antibiotik streptomisin untuk pengobatan TBC
6. Pembuatan zat kimia misalnya aseton dan butanol oleh Clostridium acetobutylicum

7. Berperan dalam proses pembusukan sampah dan kotoran hewan sehinggga menghasilkan energi alternatif metana berupa biogas. Contohnya methanobacterium

8. Penelitian rekayasa genetika dalam berbagai bidang.sebagai contoh dalam bidang kedokteran dihasilkan obat-obatan dan produk kimia bermanfaat yang disintesis oleh bakteri, misalnya enzim, vitamin dan hormon.

Bakteri yang merugikan sebagai berikut :

1. Pembusukan makanan contohnya Clostridium botulinum

2. Penyebab penyakit pada manusia contohnya :
Mycobacterium tuberculosis penyebab penyakit TBC 
Vibrio cholerae penyebab kolera atau muntaber
Clostridium tetani penyebab penyakit tetanus
Mycobacterium leprae penyebab penyakit lepra
3. Penyebab penyakit pada hewan contohnya Bacilluc antrachis penyebab penyakit antraks pada sapi

4. Penyebab penyakit pada tanaman budidaya contohnya :
Pseudomonas solanacearum penyebab penyakit pada tanaman tomat, lombok, terungdll
Agrobacterium tumafaciens penyebab tumor pada tumbuhan

Cara budidaya Kentang (Solanum tuberosum L)

       Kentang atau dikenal dengan nama latin Solanum tuberosum L merupakan tumbuhan dari suku Solanaceae.
Tumbuhan ini berumbi dan menjadi salah satu makanan pokok penting bagi penduduk negara-negara di Eropa.
Namun bukan berarti asal tumbuh kentang berasal dari daratan eropa.
Pada awalnya kentang didatangkan dari Amerika Selatan oleh penjelajah asal Spanyol dan Portugis, kemudian tumbuhan ini ditanam dan hingga berkembang dengan baik di daratan Eropa.
Tumbuhan ini dari tempat asalnya telah di budidayakan sejak ribuan tahun silam dan merupakan tumbuhan herba atau berbatang pendek.
Tumbuhan ini dapat tumbuh dengan baik di daratan beriklim sejuk dan dapat ditanam di daratan tinggi du negara-negara tropis seperti Negara Indonesia.
Berikut adalah klasifikasi ilmiahnya.

   Klasifikasi ilmiah
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Asteridae
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae
Genus : Solanum
Spesies : S. tuberosum
Nama binomial : Solanum tuberosum L.

       Kentang diduga masuk ke Indonesia pada tahun 1794 dan di tanam pertama kali di daerah Cimahi di provinsi Jawa barat. Sejak itu lah kentang ditemukan di wilayah Priangan dan kawasan Gunung Tengger.
Pada tahun 1812 kentang sudah dikenal dan di jual di Kedu, namun penduduk di pulau Sumatera sudah mengenalnya pada tahun 1811.
Kentang mengandung vitamin A, B-kompleks, C, asam folat mineral, protein, karbohidrat, karotenoid dan polifenol. Dalam pohon kentang juga diketahui memiliki zat solanin yang berguna sebagai obat penenang, anti kejang, anti jamur dan pestisida.
Kompresan air kentang ini dikenal sangat membantu untuk pengobatan luka pada kulit, terlebih di negara miskin yang sulit mendapatkan fasilitas cangkok kulit (skin graft).
Namun bila kentang terpapar cahaya, umbi pada tanaman kentang akan membuat senyawa glikoalkaloid atau lebih dikenal dengan sebutan solanin, maka akan berbahaya bila dikonsumsi. Akibatnya akan menimbulkan terganggunya sistem saraf, terbakar tenggorokan, sakit kepala, paralisis/lumpuh tungkai dan badan mendingin. Apabila dosis yang dikonsumsi sudah mencapai 3-6 mg, akibat bisa fatal. Pengobatan yang bisa dilakukan ialah memberi arang aktif/norit, cuci lambung dan diberi cairan infus. Sebab itu, untuk pencegahan terjadinya solanin pada kentang yang hendak dikonsumsi itu, maka letakkan kentang di tempat yang gelap. Memasak solanin pada suhu tinggi dapat menghancurkan sebagian solanin.
Hindari mengonsumsi kentang yang sudah berkecambah dan berwarna hijau di bagian bawah kulit, karena alkaloid solaninnya sudah tinggi dan sudah sangat beracun.

Teknik Budidaya

       Kentang akan tumbuh sempurna di dataran tinggi yaitu berkisar antara 1.600 hingga 3.000 meter diatas permukaan laut.
Kelembaban udara tinggi antara 80% hingga 90%.
Curah hujan yang baik.

Pemilihan Bibit Unggul
Terdapat tunas pada umbi dan memiliki daya tahan yang baik pada umbi, setelah 4 bulan pasca panen.
Mata tunas setidaknya memiliki panjang ±2 cm dan memiliki 4-5 mata tunas pada tiap umbi kentang. Usahakan permukaan kulit umbi tidak memiliki cacat dan penyakit.

Media tanam
Pemilihan dan pengolahan lahan yang baik adalah modal utama dalam melakukan budidaya kentang yang baik.
Tahap awal adalah menggemburkan tanah dan diamkan selama ±3 hari, supaya bibit penyakit dalam media tanam dapat mati terkena paparan sinar matahari secara langsung.
Setelah itu berikan pupuk kompos pada lahan yang berguna sebagai pupuk dasar, kemudian diamkan selama ± 7 hari.
Lalu buatlah bedengan-bedengan pada lahan dan usahakan bedengan tersebut menghadap ke arah timur dan barat,
Lebar bedengan tersebut antara 70-75 cm dan tinggi 30-35 cm serta jarak  bedengan dengan bedengan yang lain antara 40 cm.

Jarak tanam
Buatlah lubang tanam di atas bedengan dengan jarak antar lubang tanam kira – kira 20cm hingga 25 cm.
Tahap selanjutnya adalah menanam umbi kentang yang telah dipersiapkan. Sebaiknya awal tanam dimulai pada saat musim penghujan agar tanaman baru langsung mendapatkan suplay air yang cukup.

Pemupukan
Penggunaan pupuk dapat dilakukan dengan rotasi setiap 20 hari dan pemupukan harus dilakukan secara rutin.
Cara aplikasinya ditaburkan di tengah-tengah antara jarak tanam.
Pupuk dan dosis yang digunakan adalah sebagai berikut;
Pupuk Urea 500kg/h.
Pupuk ZA 150kg/h.
Pupuk KCL 100kg/h.
Pupuk SP36 400kg/h.

Penyiangan
Pembersihan gulma merupakan hal penting yang harus dilakukan.
Gulma adalah tumbuhan asing yang dapat mengganggu pertumbuhan dan hasil produksi tanaman.
Penyiangan dapat dilakukan bersamaan saat waktu pemupukan yaitu setiap 20 hari sekali atau dapat juga lakukan pada saat umur tanaman telah mencapai 30 hari dan dapat juga dimulai pada saat umur 50 hari.

Penyiraman
Penyiraman dilakukan 1 hari sekali atau bisa juga dilakukan pada waktu kondisi tanah terlihat kering.
Usahakan waktu penyiraman jangan terlalu banyak (tergenang), karena dapat menghambat pertumbuhan tanaman yang disebabkan terlalu banyak air.

Masa panen
Pada umumnya kentang sudah dapat dipanen telah mencapai usia 3-4 bulan dan usahakan waktu pemanenan waktu kondisi cuaca cerah.
Setelah kentang dipanen, diamkan di lahan sekitar 1 jam supaya terpapar sinar matahari secara langsung. Karena kulit umbi akan mengering dan kotoran tanah akan terlepas semua.

      Demikian sedikit informasi mengenai kentang, semoga bermanfaat dan sukses.

20 September, 2017

Cara mengatasi wawung (Wawong)

        Wawung atau lebih dikenal dengan nama kumbang bor / badak. Pada dasarnya Wawung dikategorikan sebagai hama yang serius di perkebunan kelapa dan kelapa sawit.
   Hewan ini hanya menyerang pelepah janur bagian dalam (pondo).
Wawung sangat aktif dimalam hari dan suka berpindah-pindah dari pohon satu kepohon lainnya.

1 wawung dapat membunuh 5 pohon kelapa sawit.
Lalu bagaimana bila ada 10 Wawung dan bagaimana dampak negatif yang ditimbulkan ?.
Jika 1 Wawung dapat membunuh 5 pohon, maka 10 Wawung dapat membunuh 50 pohon.

   Dari  hasil pengamatan kebiasaannya dapat dipastikan, bahwa cara mengatasinya harus dimalam hari.
Sebab malam hari adalah yang paling pas untuk memancing hewan ini keluar.       
  Langkah awal yang harus ditempuh adalah mencari pohon yang terserang.
Bila sudah selesai dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut ;

    Bahan utama ;
   - Ember ukuran besar
   - Madu murni
   - Insektisida merk decis.

Cara membuat ;
Campur Madu dan decis kedalam ember secukupnya, lalu aduk-aduk hingga rata.

Cara penggunaan ;
Oleskan ramuan madu dan decis ke dinding dan kebagian dalam seluruh ember.
Lalu letakkan ember di gawangan / pasar hidup dan usahakan disekitar gawangan ada tanaman yang terserang.

     Fungsi madu adalah sebagai media pemancing hewan wawung untuk keluar dari pohon yang diserang. Karena dari aroma madu yang khas ini dapat menariknya untuk keluar.
    Fungsi insektisida decis adalah untuk membuka saluran natrium secara permanen yang mengakibatkan Wawung terangsang secara terus menerus.
Dampaknya, Wawung akan mengalami kejang-kejang dan  memblokir syaraf, lalu pada akhirnya akan mati.

   Ada cara lain yang lebih sederhana dan efisien untuk mengatasi hama Wawung.

    Bahan-bahan ;
· Madu secukupnya.
· Insektisida merk decis
   secukupnya.
· Botol / gelas bekas air mineral.
· Benang bekas / baru.
· Kapas secukupnya.
· Pisau

      Cara membuat ;
Campur madu dan decis , kemudian aduk sampai merata.
Potong botol menjadi 2 bagian.
Lalu buat 2 lubang diunjung botol arah kanan dan kiri.
Kemudian pasang tali di lubang botol yang menyerupai bentuk ember / tong.

  Cara penggunaan ;
Celupkan kapas kedalam campuran madu dan decis tadi.
Kemudian masukkan kedalam potongan botol.
Lalu gantungkan di pohon yang diserang hama tadi.

Catatan ;
Untuk menggunakan cara ini jangan waktu akan turun hujan.

   Demikianlah sedikit informasi mengenai cara sederhana membasmi Wawung.
Semoga bermanfaat dan memberikan solusi bagi sahabat petani.
   Sekian dan terimakasih.                

01 February, 2017

Takaran herbisida menurut sifat dan kegunaan

     Herbisida adalah jenis pestisida pembasmi gulma. Herbisida diambil dari kata "herba" yang berarti tanaman setahun, sedangkan "sida" yang berarti racun.
Cara kerja herbisida dibedakan dari 2 tipe yaitu pra tumbuh dan pasca tumbuh.

     Pada umumnya herbisida bekerja dengan cara menggangu proses anabolisme senyawa penting seperti pati, asam lemak atau asam amino pada tubuh gulma sasaran.
Herbisida dapat menjadi kompetitor, karena memiliki struktur yang mirip dan menjadi kosubstrat yang mudah dikenali oleh enzim yang menjadi sasarannya.
Cara kerja lainnya dengan mengganggu keseimbangan produksi senyawa-senyawa yang diperlukan oleh tumbuhan itu sendiri.
Herbisida adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk menekan atau memberantas tumbuhan penyebab penurunan hasil.
Lahan pertanian biasanya ditanami tanaman sejenis atau dua jenis tanaman pertanian. Namun tumbuhan lain atau gulma juga dapat tumbuh di lahan tersebut, sebab antara tanaman dan gulma saling berkompetisi dalam mendapatkan unsur hara di tanah, penyerapan cahaya matahari.
Kemudian herbisida digunakan sebagai salah satu sarana pengendalian tumbuhan "asing" atau gulma pengganggu yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman.

       Perbedaan herbisida menurut cara kerjanya;
Herbisida pra tumbuh digunakan pada lahan setelah diolah dan sebelum benih gulma bertebar atau setelah penyemprotan gulma dilaksanakan maka dengan segera benih ditebar dilahan. Herbisida jenis ini bersifat nonselektif atau membunuh semua tumbuhan yang ada.
Herbisida pasca tumbuh yaitu diberikan setelah benih gulma memunculkan daun pertamanya. Herbisida jenis ini bersifat selektif artinya tidak tidak mengganggu tumbuhan pokoknya.
Herbisida jenis ini ada 2 macam yaitu herbisida bersifat kontak dan sistemik.
1). Herbisida kontak adalah herbisida untuk menyiang gulma secara langsung dalam mengganggu tumbuhan untuk berfotosintesis artinya gulma akan mati bila bersinggungan secara langsung.
Contoh produk herbisida jenis ini adalah NOXONE 297SL.

2). Herbisida sistemik adalah herbisida yang bekerja mengganggu enzim dan berperan dalam membentuk asam amino yang berguna untuk tanaman, sehingga herbisida sistemik mudah diserap keseluruh jaringan tumbuhan dan akan mati sampai keakar-akarnya.
Contoh produk herbisida jenis ini adalah GARLON, STARLON dan Round up.

        Pembeda penjelasan sifat herbisida diatas merupakan contoh kecil dari herbisida kontak dan sistemik.
Pada umumnya produk herbisida yang banyak dijual di toko pertanian memiliki kualitas berbeda-beda, tergantung dari bahan kimia yang digunakan.
Perbedaan yang mencolok adalah warna dan kemasan. Jika herbisida kontak biasanya warnanya cenderung biru dan oleh sebab itulah petani biasa menyebutnya dengan nama obat biru (herbisida berwarna biru). Jika herbisida sistemik biasanya warnanya cenderung berwarna kuning dan ada juga yang transparan( bening), petani biasa menyebutnya dengan nama obat kuning (herbisida berwarna kuning) dan sebagainya.

      Takaran paling umum yang dianjurkan oleh produsen herbisida adalah 2 - 3 liter per herktar dan 3 - 4 liter per hektar. Untuk mensiasati ini gulma dibedakan dari 3 tipe yaitu gulma ringan, gulma sedang dan gulma berat maksudnya adalah sebagai berikut.

1. Gulma ringan.
Gulma ringan adalah dari jenis rumput rumputan, kondisi pertumbuhannya tidak terlalu tinggi dan jaraknya cenderung jarang. Takaran yang dapat diterapkan antara 50 - 70 cc per 15 - 20 liter air.

2. Gulma sedang.
Gulma sedang adalah gulma berdaun sempit dan gulma berdaun lebar, untuk umur gulma antara 3 - 5 bulan dengan ketinggian 40 - 60 cm. Takaran yang dapat diterapkan antara ±100 cc per 15 - 20 liter air.

3. Gulma berat.
Gulma berat adalah gulma berdaun sempit dan gulma berdaun lebar, untuk umur yang sangat tua dengan ketinggian mencapai bahu dan kepala orang dewasa. Takaran yang tepat di terapkan antara 120 - 150 cc per 15 - 20 liter air.
Penerapan penyiangan seperti ini kurang efektif dan efisien, karena kematian gulma menjadi tidak merata dan perlu melakuakan penyiangan ulang (Rotasi) 2 - 3 kali.

       Demikian sedikit informasi mengenai cara menerapkan dosis herbisida. Semoga bermanfaat dan sukses. Sekian dan terima kasih.

28 January, 2017

Cara mengatasi bercak daun pada tanaman kelapa sawit

      Penyakit bercak daun disebabkan oleh beberapa jenis spesies jamur yaitu jamur Curvularia eragrostidis, Curvularia sp, Drechslera halodes, Cochliobolus carbonus, Cochliobolus sp dan Pestalotiopsis sp.
Jamur/patogen tersebut menyebar melalui spora yang terbang di bawa angin atau percikan air.

   Pada umumnya penyakit tersebut menyerang bibit (tanaman muda) kelapa sawit.
Faktor penyebab utamanya adalah kelembaban udara yang terlalu tinggi, sehingga spora mudah tumbuh dan berkembang.
Selain itu banyaknya gulma yang tumbuh pada lokasi  persemaian. Karena gulma dari keluarga gramineae merupakan inang sementara potensial bagi jamur/patogen tersebut. Oleh sebab itu, kebersihan pada lokasi persemaian menjadi penentu berkembangnya patogen tersebut.

  Jika terdapat indikasi bibit terinfeksi jamur tersebut, maka penyiraman harus menghindarkan air mengenai daunnya secara langsung dan usahakan langsung mengenai permukaan tanah didalam polibag.
Kemudian penyiraman harus dikurangi dalam jangka waktu tertentu.
Penjarangan bibit pada persemaian harus dilakukan. Jika kondisi penyebaran patogen telah mencapai diambang batas, maka bibit yang terinfeksi harus segera dimusnahkan atau dipisahkan jauh dari persemaian.
Jika yang terinfeksi hanya sedikit, maka daun pada bibit kelapa sawit tersebut cukup diambil dan dimusnahkan dengan cara dibakar.
Selain itu pengendalian jamur tersebut dapat dilakukan dengan cara penyemprotan pestisida dari golongan fungisida dengan kosentrasi sebagai berikut.

Aplikasi :

Fungisida merk thibenzol, captan atau thiram dengan konsentrasi 0,1-0,2% setiap 10-14 hari sekali.

    Semoga bermanfaat dan sukses.

Cara mengatasi karat daun pada tanaman kelapa sawit.

     Penyakit karat daun adalah penyakit yang paling umum dijumpai di perkebunan kelapa sawit.
Penyakit ini menyerang tanaman produktif dan tidak produktif.
Penyakit ini disebabkan oleh sejenis alga yaitu alga Cephaleuros virescen.
Ciri-ciri gejala penyakit ini berupa pembentukan karat berwarna kemerahan pada pelepah-pelepah tua (pelepah penyangga buah). Oleh sebab itu seluruh daun pada pelepah-pelepah penyangga menjadi kering dan kemudian mati.

     Penyakit karat daun diketahui dapat mengganggu kemunculan tandan buah baru dan mengurangi hasil produksi buah kelapa sawit.
Selain itu tindakan pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara penyemprotan fungisida tembaga, seperti fungisida Kurproxat 345SC dengan dosis 2,5- 5 gram / 2 liter air bersih dan dengan interval penyemprotan satu minggu sekali.

    Semoga bermanfaat dan sukses.

26 January, 2017

Cara mengatasi penyakit tajuk pada tanaman kelapa sawit

      Penyakit tajuk atau lebih dikenal dengan penyakit Crown disease adalah penyakit pada tanaman kelapa sawit yang disebabkan oleh gen keturunan tanaman induk. Penyakit ini merupakan penyakit merupakan penyakit yang berbahaya dan sangat perlu penanganan yang serius.
Jika tidak dilakukan, maka sudah dapat dipastikan tanaman kelapa sawit yang berasal dari induk berpenyakit produktifitasnya sangat rendah, karena tanaman tidak dapat membentuk buah dengan maksimal.

      Penyakit ini tergolong penyakit turunan dan secara umum sangat terlihat pada tanaman kelapa sawit berusia 2-4 tahun setelah tanaman.
Tanaman bergen penyakit tajuk dapat diketahui pada pelepah yang bengkok-bengkok dan tidak memiliki helai daun seperti tanaman pada umumnya.
Ciri lain terlihat pada daun pertengahan hingga keujung pelepah yaitu daun kecil-kecil, sobek atau tidak memiliki helai daun sama sekali.

     Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk menanggulangi penyakit ini adalah sebagai berikut ;
1). Menggunakan bibit yang sehat dan berkualitas dan jelas asal – usulnya.
2). Menggunakan bibit bersertifikat yang sudah terbukti kualitasnya,
3). Menyingkirkan tanaman-tanaman yang memiliki gen panyakit tajuk.
4). Pastikan piringan selalu bersih dari gulma pengganggu.

     Penyakit ini bisa dikatakan cacat bawaan atau bisa dikatakan sifat dari genetik yang diturunkan dari tanaman induk.
Hingga saat ini belum ditemukan secara pasti untuk mengatasi dan mengendalikan penyakit ini.
Oleh sebab itu harus dilakukan seleksi terlebih dahulu pada tanaman yang akan dijadikan induk, karena akan bersifat beregenerasi  terhadap penyakit ini atau bisa dikatakan indukan yang terinfeksi penyakit ini tidak boleh dijadikan indukan.
Kemudian dari beberapa kasus dilapangan, hanya terdapat beberapa pohon saja yang dapat sembuh dan normal. Namun hanya kondisi fisik dari pohon tersebut terindikasi lemah dan dapat terserang kembali sewaktu-waktu.

       Semoga bermanfaat dan sukses.

21 January, 2017

Cara mengatasi Penyakit Akar / Busuk Akar Sawit (Blast disease) pada tanaman kelapa sawit.

      Penyakit akar adalah salah satu dari deretan penyakit yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan kelapa sawit.
Penyakit ini disebut dengan Blast disease yang disebabkan oleh cendawan/jamur Rhizoctonia lamellifera dan Phytium sp.
Cendawan ini selalu menyerang sistem perakaran tanaman kelapa sawit yang berada didalam tanah dan menyebabkan akar tanaman membusuk. Pada umumnya Akar tanaman yang terinfeksi akan membusuk dan rusak, sehingga fungsinya sebagai penyerap nutrisi dan air akan terhenti.
Akibatnya akan mengganggu pertumbuhan dan pada akhirnya tanaman akan menjadi mati.

    Ciri-ciri tanaman kelapa sawit yang terinfeksi jamur Rhizoctonia lamellifera dan Phytium sp, biasanya pertumbuhan tanaman menjadi tidak normal, kerdil, kondisi tanaman menjadi lemah dan menjadi nekrosis (daun berubah warna dari hijau menjadi kuning) pada daun tanaman.
Perubahan warna daun (nekrosis) ini dimulai dari ujung daun dan hanya dalam waktu beberapa hari saja tanaman akan mati.
Penyakit ini bisa menyerang mulai dari pembibitan, tanaman muda hingga tanaman dewasa.
Namun penyakit ini sering ditemukan pada masa pembesaran bibit dan sangat jarang di temui pada tanaman usia produktif.

     Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara pencegahan yaitu dengan melakukan budidaya yang baik dan benar sesuai dengan prosedur budidaya yang dianjurkan.
Biasanya cara ini dapat dilakukan dengan mengikuti berbagai program penyuluhan dari petugas Dinas terkait dan Mitra perkebunan rakyat.
Selain itu tindakan yang paling efesien untuk mencegah penyakit akar sebaiknya dilakukan sejak dini yaitu sejak pemilihan bibit dan persemaian.
Berikut adalah cara sederhana untuk melakukan pencegahan sejak dini untuk mengendalikan Blast disease.
• Menggunakan benih dari varietas bersertifikat yang sudah teruji kualitasnya.
• Menggunakan media semai yang baik dan tidak terinfeksi jamur Rhizoctonia lamellifera dan Phytium sp.
• Mencegah perkembangbiakan jamur dengan mengkondisikan media semai pada pH yang ideal.
• Melakukan penyemaian dengan baik agar bibit sehat dan kuat.
• Pemberian naungan pada bibit dimusim kemarau.
• Pemberian air yang cukup dan tidak berlebihan.
• Mengaplikasikan fungisida sejak dini untuk pencegahan.

    Jika pengendalian penyakit akar pada tanaman produktif, maka dapat dilakukan dengan cara penyemprotan menggunakan fungisida secara berkala,berikut adalah langkah yang dapat dilakukan.
Bahan-bahan;
• Fungisida.
• Air.

Aplikasi;
Masukkan fungisida kedalam tanki semprot dengan dosis 20 gr atau 20 cc untuk fungisida berjenis cair.
Kemudian tambahkan 15 L air bersih dan semprotkan pada batang pohon beserta piringan.

     Semoga bermanfaat dan sukses.

Cara mengatasi busuk kuncup pada tanaman kelapa sawit

     Penyakit busuk kuncup atau lebih dikenal dengan sebutan Spear rot merupakan penyakit tanaman kelapa sawit yang menyerang bagian kuncup atau pupus tanaman.
Penyakit ini menyebabkan pertumbuhan tanaman tumbuh tidak normal, kerdil, pertumbuhan menjadi sangat lambat dan tidak mampu membentuk buah. Penyakit busuk kuncup sering menyerang tanaman muda atau sebelum tanaman mampu berproduksi.
Gejala awal penyakit ini dapat ditandai dengan adanya rizomorf jamur berwarna putih pada permukaan buah terutama dibagian pangkal, mula-mula pada tandan terbawah (bila telah berbuah).
Penyakit ini biasanya mulai menyerang buah berumur 2-4 bulan, tetapi kadang- kadang tandan dan bungapun terserang.
Jika tandan buah terserang, maka tandan buah menjadi rusak sebagian atau seluruhnya menjadi busuk, perikarp menjadi lembek berwarna coklat, kemudian menghitam menyebabkan naiknya kadar asam lemak bebas dalam minyak yang dihasilkan.

     Penyakit ini disebabkan oleh jamur Marasmius palmavorus.
Pada umumnya menyerang pupus janur yang membusuk.
Hingga saat ini belum ditemukan secara pasti fungisida atau biopestisida yang dapat mengendalikan jenis patogen/jamur marasmus palmavorus ini.
Namun biasanya petani hanya memotong kuncupnya (pupus) yang terinfeksi jamur ini.
Namun hal ini tidak cukup untuk membantu.

Pengendalian;
1). Mengurangi kelembaban.
2). Melakukan kastrasi.
3). Membuang bunga dan buah yang busuk.
4). Penunasan dan penyiangan gulma tepat waktu.
5). Pastikan piringan selalu bersih dari gulma.
6). Melakukan aplikasi fungisida sikloheksimid, kaptafol, fenilmerkuri asetat atau tebukonazol dengan konsentrasi 0,1-0,2%, 300 l/ha.

      Semoga bermanfaat dan sukses.

08 January, 2017

Cara membuat insektisida nabati

     Ageratum conyzoides adalah tumbuhan dari keluarga Asteraceae.
Tumbuhan ini merupakan gulma disekitar lahan pertanian maupun terdapat pada lahan perkebunan.
Selain dari sifat merugikannya bagi tanaman disekitar hidupnya,
Ageratum conyzoides dapat dimanfaatkan menjadi pestisida nabati.
Penggunaan pestisida nabati diketahui lebih aman dan ramah bagi lingkungan dan dapat menjadi solusi untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).
Selain itu dapat menekan penggunaan pestisida kimia berlebihan, mengurangi biaya produksi dan dampak buruk bagi kesehatan petani dan pencemaran lingkungan.

   Ageratum conyzoides adalah sejenis gulma pertanian dari anggota suku Asteraceae. Terna semusim ini berasal dari Amerika tropis khususnya wilayah Brasil. Namun di Indonesia disebut dengan nama wedusan (Jw), babandotan (Snd), balam (Ptk) dan tombak (sumatra) serta dalam bahasa Inggris disebut Billygoat-weed, Goatweed, Chick weed, atau Whiteweed.
Tumbuhan ini mendapatkan namanya karena baunya hampir mirip dengan kambing.
Berikut adalah klasifikasi ilmiahnya.


Klasifikasi ilmiah;
Kerajaan : Plantae
(tidak termasuk) : Angiospermae
(tidak termasuk) : Eudikotil
(tidak termasuk) : Asterids
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Bangsa : Eupatorieae
Genus : Ageratum
Spesies : A. conyzoides
Nama binomial
Ageratum conyzoides L.
   Genus Ageratum ini termasuk herba menahun, tegak bulat, berbulu, dan bercabang dengan ketinggian antara 30 - 80 cm serta memiliki daya adaptasi tinggi.
Ciri daun saling berhadapan serta memiliki bentuk bulat telur
Bentuk bunganya bulat mangkuk berwarna putih keunguan dan berkembang biak melalui biji serta dapat hidup  ketinggian 2.100 mdpl.

     Daun Ageratum conyzoides dapat diekstrak menjadi insektisida organik serta mengandung dua senyawa aktif yaitu precocene I dan precocene II, selain itu Ageratum conyzoides mengandung saponin, flavanoid, polifenol dan minyak atsiri.
Precocene I dan precocene II dikenal sebagai senyawa anti hormon juvenil, hormon ini diperlukan oleh serangga selama metamorfosis dan reproduksi.
Senyawa precocene diduga mengalami reaksi kimia dalam tubuh serangga, sehingga menjadi reaktif dan menyebabkan terjadinya kerusakan protein sel dan kematian sel. 
Kematian sel-sel tersebut adalah sel-sel kelenjar corpora allata yang dapat menghasilkan hormon juvenil.
Saat pemberian senyawa precocene akan menyebabkan turunnya titer hormon juvenil, sehingga serangga dapat menjadi metamorfosis dini, imago menjadi steril, diapause dan  mengganggu produksi feromon.
Kandungan precocene pada Ageratum conyzoides dapat bekerja sebagai racun kontak serta berfungsi sebagai racun perut.
Kemudian cukup efektif untuk mengendalikan serangga-serangga hama pertanian diantaranya adalah Aphis craccivora, Bombyx mori, Oncopeltus fasciatus, Dysdercus cingulatus, Heliothis armigera, dan H. talaca.

    Menurut penelitian Ageratum conyzoides dapat digunakan sebagai pestisida golongan herbisida alami yaitu jika dilihat dari populasinya yang lebih dominan dibandingkan dengan tanaman liar lain didalam suatu lahan pertanian maupun perkebunan dan diduga kuat memiliki alelopati yaitu suatu keadaan di mana tanaman/bahan tanaman mengeluarkan eksudat kimia yang dapat menekan pertumbuhan tanaman lainnya.
Penggunaan daun Ageratum conyzoides  dengan dosis 2 ton/ha dapat menekan sampai 75% pertumbuhan beberapa gulma pada tanaman padi seperti Aeschynomene indica, Monochoria vaginalis dan Echinochloa crusgalli var. Formosensis Ohwi.
Karena pada daunnya mengandung alelopati yang diidentifikasi memiliki 3 jenis phenolic acid yaitu gallic acid, coumalic acid dan protocatechuic acid, yang berguna untuk menghambat pertumbuhan beberapa jenis gulma pada tanaman padi.

    Cara membuat bio pestisida atau pestisida golongan insektisida organik adalah sebagai berikut.
Bahan-bahan;
• Daun Ageratum conyzoides 5 kg.
• Deterjen 1 gram.
   Sebagai perekat.

Cara membuat;
Tumbuk atau giling Ageratum conyzoides sampai benar-benar halus.
Setelah itu larutkan deterjen dengan air.
Lalu campurkan kedua bahan dan aduk-aduk sampai benar-benar tercampur rata.
Kemudian diamkan selama 1 malam sebelum digunakan.
Dosis pemakaian;
25-30 cc / tanki 15 liter.

    Ageratum conyzoides dikenal luas sebagai obat luka baru maupun lama dengan cara ditumbuk  dan dicampur menggunakan minyak goreng atau kapur dan digunakan untuk obat luar.
Rebusan dari daun juga digunakan untuk obat sakit dada, sementara ekstrak daunnya untuk obat mata panas.
Tumbukan akar digunakan sebagai obat demam dan ekstraknya dapat diminum.
Namun pada tahun 1987 telah laporkan bahwa kandungan zat pada Ageratum conyzoides adalah minyak esensial, alkaloid dan kumarin.
Selain dikenal memiliki fungsi sebagai obat, tumbuhan ini mempunyai kekuatan racun serta efek samping yang ditimbulkan dapat menyebabkan luka-luka pada hati dan menumbuhkan bibit tumor.
Tumbuhan ini juga mengandung alkaloid pirolizidina.

Dikutip dari jurnal;
• Fakultas Pertanian, Universitas Miyazaki, Jepang, (Crop Protection, 2004, 23: (915 - 922), 2004.
• Ditjebun thn 1994.
• Heyne thn 1987.

    Demikian sedikit informasi mengenai cara membuat insektisida organik atau insektisida alami.
Semoga bermanfaat dan sukses.
Sekian dan terimakasih.

13 December, 2016

Cara mengatasi Patch yellow pada tanaman kelapa sawit

     Penyakit garis kuning atau lebih dikenal dengan Patch yellow adalah jenis penyakit yang disebabkan oleh jenis Fusarium Oxiysporum.
Penyakit ini banyak ditemukan menginfeksi daun muda dan menjalar hingga ke daun tua.
Ciri-ciri tanaman yang terinfeksi jamur ini pada umumnya daun-daunnya akan mengering dan gugur.
Penyakit ini diketahui menyerang pada bagian ujung daun yang belum membuka atau janur.
Akibatnya pertumbuhan tanaman menjadi tidak normal dan tanaman tidak dapat membentuk bunga dan buah.

     Tanda-tanda penyakit ini dapat dilihat dari daun yang memiliki bercak-bercak lonjong berwarna kuning dan ditengah bercak-bercak kuning tersebut terdapat bercak-bercak berwarna cokelat.
tersebut terdapat bercak berwarna cokelat. Penyakit ini menyerang pada saat bagian ujung daun belum membuka dan akan menyebar ke helai daun yang telah terbuka pada pelepah yang sama. Penyakit ini menyerang tanaman yang mempunyai kepekaan tinggi dan diketahui karena faktor keturunan (genetik).

      Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan cara  rekayasa (inokulasi) pada bibit dan tanaman muda.
Selain itu  cara ini diketahui dapat mengurangi berkembangnya penyakit pada persemaian dan tanaman muda di lahan produksi.

     Semoga bermanfaat dan sukses.

Cara mengatasi antraknosa pada tanaman kelapa sawit

     Penyakit antraknosa atau penyakit busuk daun, pada umumnya menyerang bibit kelapa sawit muda.
Penyakit ini sebenarnya kumpulan dari nama penyakit atau infeksi pada bibit kelapa sawit kurang dari 3 bulan.
Penyebabnya adalah 3 jenis jamur atau patogenik bernama Botryodiplodiaspp, Melanconium elaeidis dan Glomerella cingulata dalam bahasa latin.
Spora yang dihasilkan di dalam piknidia atau aservuli dan dapat menyebar dengan bantuan angin atau percikan air siraman dan air hujan. Penyakit ini telah dilaporkan terdapat di berbagai perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

    Gejala penyakit antraknosa cukup mudah diketahui melalui perubahan warna daun.
Bila terdapat bercak-bercak cokelat tua pada ujung daun dan tepi daun, kemudian terdapat bercak-bercak dikelilingi warna kuning pada batas antara bagian daun yang sehat dan yang terserang ataupun bila menyerang tulang daun, terlihat adanya warna cokelat dan hitam diantara tulang daun. Pada serangan parah, seluruh daun akan mengering dan selanjutnya tanaman akan mati.
Namun pada umumnya penyakit ini menyerang bibit pada umur 2-3 bulan. Kadang-kadang dijumpai bersamaan dengan gejala transplanting shock (cekaman pindah tanam). Biasanya gejala tersebut dijumpai pada bagian tengah atau ujung daun, berupa bintik terang yang selanjutnya melebar menjadi kuning kecoklat gelap.
Jaringan terinfeksi selanjutnya menjadi nekrosis, bercak meluas dengan batas antara bercak dengan jaringan sehat berwarna kuning. Kadang kala bercak tersebut memanjang sejajar dengan tulang daun.

     Faktor pendorong terjadinya serangan PDA ini adalah sama dengan faktor pendorong pada serangan PBD. Karenanya, selain pembersihanan lahan, penjarangan, pemangkasan, pengisolasian dan pemusnahan bibit yang telah kolaps, sekaligus melakukan pengurangan teduhan di atas pembibitan. Karena cahaya matahari dapat membantu mengurangi percepatan penyebaran pertumbuhan jamur/patogen.

Pengendalian;
Lakukan penyemprotan menggunakan fungisida ziram, thiram, captan atau triadimenol dengan konsentrasi 0,1-0,2% (10-20 cc) dengan putaran 7-10 hari atau dengan thibenzol dengan konsentrasi 0,1% dengan putaran 10-14 hari.

     Semoga bermanfaat dan sukses.

Penjelasan giberelin acid

     Giberelin ditemukan pertama kali di Jepang. Giberelin dalam bahasa Inggris disebut gibberellin atau asam giberelat atau gibberellic acid dan bila disingkat disebut GA.
Giberelin pertama kali dikenalkan pada tahun 1926 oleh seorang ilmuwan asal  Jepang bernama Eiichi Kurosawa dan  beliau meneliti tentang penyakit padi yang disebut "bakanae".
Hormon ini pertama kali diisolasi pada tahun 1935 oleh Teijiro Yabuta dari strain cendawan Gibberella fujikuroi. Isolat ini lalu dinamai gibberellin.
Pada tahun 1939 Teijiro Yabuta dan Hayashi berhasil mengisolasi crystalline material yang berfungsi menstimulasi pertumbuhan pada akar kecambah.
Dalam kurun waktu 11 tahun yaitu pada tahun 1951, Stodola dkk melakukan penelitian terhadap substansi ini serta menghasilkan "Gibberelline A" dan "Gibberelline X".
Kemudian penelitian selanjutnya menghasilkan GA1, GA2, dan GA3.
Pada waktu yang sama  Laboratory of the Imperial Chemical Industries di Inggris juga melakukan penelitian dan menghasilkan 1 hormon yaitu hormon GA3.
Oleh sebab itu zat tersebut diberi nama Gibberellin acid dan telah disepakati oleh para peneliti, sehingga semakin terkenal hingga sekarang.

     Giberelin acid adalah kelompok dari semua anggota hormon dan memiliki fungsi serupa atau berkaitan dengan bioassay GA1.
Giberelin acid terdapat di sepanjang hidup tumbuhan serta diketahui mengatur perkecambahan, pemanjangan batang, pemicuan pembungaan, perkembangan kepala sari (anther), perkembangan biji dan pertumbuhan perikarp. Kemudian fitohormon ini juga berperan dalam proses terhadap rangsangan melalui fisiologis yang terkait dengan mekanisme biosintesisnya.

      Giberelin ditemukan dalam dua fase utama yang meliputi giberelin aktif (GA bioaktif) dan giberelin nonaktif. Giberelin yang aktif secara biologis (GA bioaktif) berfungsi mengontrol beragam aspek pertumbuhan, perkembangan tanaman, perkecambahan biji, pertumbuhan batang atau cabang, perluasan daun serta pembungaan dan pengembangan benih.

    Setelah giberelin di temukan pertama kali hingga tahun 2008. Maka telah ada 100 lebih jenis hormon giberelin yang berhasil ditemukan.
Keberhasilan tersebut diidentifikasi dari beberapa jenis tumbuhan serta hanya sedikit hormon yang mirip dengan Giberelin Acid (GA1) dan Giberelin Acid (GA4), kemudian diduga berfungsi sebagai hormon bioaktif.

            Penemuan gibberellin dialam.
       Di dalam alam telah ditemukan lebih dari sepuluh buah jenis gibberellin. Menurut Mac Millan dan Takashashi (1968), Kang (1970) dan Weaver (1972), gibberellin ada yang diketemukan dalam jamur Gibberella Fujikuroi, ada yang diketemukan pada tanaman tinggi dan ada juga yang diketemukan pada keduanya.
Jenis gibberellin yang diketemukan pada jamur yaitu ; GA1, GA2, GA3, GA4, GA7, GA9, s.d GA16, GA24, GA25, GA36. Sedangkan jenis gibberellin yang diketemukan pada tanaman derajat tinggi yaitu ; GA1, s.d GA9, GA13, GA17, s.d GA23, GA26, s.d GA35. Dan yang terakhir yaitu gibberellin yang diketemukan pada jamur dan tanaman derajat tinggi yaitu ; GA1, s.d GA4, GA7, GA9, dan GA13.
Gibberellin ; GA1 s.d GA5, GA7 s.d GA9, GA19, GA20, GA26, GA27, dan GA29 diketemukan pada Pharbitis nil, GA1, GA5, GA8, GA9, GA13, diketemukan pada umbi tulip, kemudian GA3, GA4, GA7, diketemukan pada anggur, GA18, GA19, GA20, diketemukan pada pucuk bambu, GA3, GA4, GA7, dijumpai pada biji apel, selanjutnya GA21, dan GA22, dijumpai pada sword bean. Pada tanaman lain yaitu : Lipinus lutens (GA18, GA23, GA28), pada pucuk tanaman jeruk dan biji mentimun diketemukan GA1, tebu (GA5), pisang (GA7), kacang, jagung, barley wheat diketemukan GA1. Adapun pada tanaman Phaseolus coclirecus diketemukan ; GA1, GA3 s.d GA6, GA8, GA13, GA17, dan GA20. Kemudian pada Rudbeckia bicolor diketemukan ; GA1, GA4, GA7, s.d GA9. Dan yang terakhir yaitu pada Calonyction aculeatum diketemukan : GA30, GA31, GA33, dan GA34. Hasil penelitian Meizger dan Zeivaart (1980) menunjukan bahwa pada pucuk bayam (spinach) didapatkan gibberellin ; GA53, GA44, GA19, GA17, GA20, dan GA29,.

         Proses  Metabolisme Gibberelline;
     Gibberellin adalah zat kimia yang dikelompokan kedalam terpinoid. Semua kelompok terpinoid terbentuk dari unit isoprene yang terdiri dari 5 atom karbon.
C
C - C - C
C
Unit Isoprene (5-C)
Unit-unit isoprene ini dapat bergabung sehingga menghasilkan monoterpene (C-10), Sesqueterpene (C-15), diterpene (C-20) dan triterpene (C-30).
Biosintesis gibberelline yang terdapat dalam jamur Gibberella Fujikuroi berproses dari Mevalonic acid sampai menjadi gibberellin. Di dalam proses biosintesis telah diketemukan zat penghambat (growth retardant) di dalam aktivitas ini. Beberapa contoh growth retardant yang menghambat biosintesis gibberelline pada tanaman antara lain Amo-1618 (2-isopropil-4-dimetil-kamine-5 metil phenil-4pipendine karboksilatmetil klorida) menghambat biosintesis gibberelline pada tanaman mentimun liar (Exhmocytis macrocarpa). Amo-1618 menghambat dalam proses perubahan dari Geranylgeranyl pyrophosphat ke Kaurene. Begitu pula growth retardant CCC (2-chloroethyl) trimethyl (-amonium chloride) memperlihatkan aktivitas yang sama dengan Amo-1618.

            Struktur molekul dan aktivitas gibberelline;
         Gibberelline merupakan suatu compound (senyawa) yang mengandung "gibban skeleton".
Menurut Weaver (1972), perbedaan utama pada gibberelline adalah:
a). beberapa gibberelline mempunyai 19 buah atom karbon dan yang lainnya mempunyai 20 buah atom karbon.
b). Grup hidroksil berada dalam posisi 3 dan 13 (ent gibberellene numbering system).
Semua gibberelline dengan 19 atom karbon adalah monocarboxylic acid yang mengandung COOH grup pada posisi 7 dan mempunyai sebuah lactonering.
Di dalam alam, dijumpai pula beberapa senyawa yang di ekstrak dari tanaman. Senyawa tersebut tidak mengandung gibberelline atau gibberellane structure tetapi termasuk ke dalam gibberelline. Dari hasil penelitian Tamura dkk, ia menemukan suatu substansi dalam jamur Helminthosporium sativum yang dinamakan "helminthosporol" yang aktif dalam perpanjangan daun pada kecambah padi dan barley. Senyawa lain yang ditemukan tanpa gibban skeleton yaitu "Steviol", namun aktivitasnya seperti gibberelline.

O H OH

CO CH2

HO H COOH H CH3 H
GA3 (gibberellic acid)

            Manfaat gibberellin bagi fisiologi tumbuhan;
        Gibberellin sebagai hormon tumbuh pada tanaman sangat berpengaruh pada sifat genetik (genetic dwarfism), pembuangan, penyinaran, partohenocarpy, mobilisasi karbohidrat selama perkecambahan (germination) dan aspek fisiologi kainnya. Gibberelline mempunyai peranan dalam mendukung perpanjangan sel (cell elongation), aktivitas kambium dan mendukung pembentukan RNA baru serta sintesa protein.

a. Genetic dwarfism
Genetic dwarfism adalah suatu gejala kerdil yang disebabkan oleh adanya mutasi. Gejala ini terlihat dari memendeknya internode. Terhadap Genetic dwarfism ini, gibberelline mampu merubah tanaman yang kerdil menjadi tinggi. Hal ini telah dibuktikan oleh Brian dan Hemming (1955). Dalam eksperimennya mereka telah memberi perlakuan penyemprotan gibberellic acid pada berbagai varietas kacang. Hasil dari eksperimen ini menunjukan bahwa gibberellic acid berpengaruh terhadap tanaman kacang yang kerdil dan menjadi tinggi.
Mengenai hubungannya dengan cell elengation, dikemukakan bahwa gibbberelline mendukung pengembangan dinding sel.
Menurut van Oberbeek (1966) penggunaan gibberelline akan mendukung pembentukan enzym protolictic yang akan membebaskan tryptophan sebagai asal bentuk dari auxin. Hal ini berarti bahwa kehadiran gibberelline tersebut akan meningkatkan kandungan auxin.
Mekanisme lain menerangkan bahwa gibberelline akan menstimulasi cell elengation, karena adanya hidrolisa pati yang dihasilkan dari gibberelline, akan mendukung terbentuknya a amilase. Sebagai akibat dari proses tersebut, maka konsentrasi gula meningkat yang mengakibatkan tekanan osmotik di dalam sel menjadi nai, sehingga ada kecenderungan sel tersebut berkembang.

b. Pembungaan (flowering)
Gibbereline sebagai salah satu hormon tumbuh pada tanaman, mempunyai peranan dalam pembungaan. Penelitian yang dilakukan Henny (1981) pada bungan spothiphyllum Mauna loa. Dengan memberikan perlakuan GA3 dengan dosis: 250, 500 dan 1000 mg/l.

c. Parthenocarpy dan fruit set
Seperti auxin, gibberelline pun berpengaruh terhadap Parthenocarpy. Hasil penelitian menunjukan bahwa gibberellic acid (GA3) lebih efektif dalam terjadinya Parthenocarpy dibanding dengan auxin yang dilakukan pada blueberry. Hasil eksperimen lain menunjukan pula bahwa GA3 dapat meningkatkan tandan buah (fruit set) dan hasil.

d. Peranan Gibberellin dalam pematangan buah (fruit ripening)
Pematangan (ripening) adalah suatu proses fisiologis, yaitu terjadinya perubahan dari kondisi yang tidak menguntungkan ke suatu kondisi yang menguntungkan, ditandai dengan perubahan tekstur, warna, rasa dan aroma.
Dalam proses pematangan ini, gibberelline mempunyai peran penting yaitu mampu mengundurkan pematangan (repening) dan pemasakan (maturing) suatu jenis buah.
Dari hasil penelitian menunjukan aplikasi gibberelline pada buah tomat dapat memperlambat pematangan buah, sedangkan gibberellic acid yang diterapkan pada buah pisang matang, ternyata pemasakannya dapat ditunda.

e. Mobilisasi bahan makanan selama fase perkecambahan (germination)
Biji cerealia terdiri dari embrio dan endosperm. Didalam endosperm terdapat masa pati (starch) yang dikelilingi oleh suatu lapisan "aleuron".. sedangkan embrio itu sendiri merupakan suatu bagian hidup yang suatu saat akan menjadi dewasa. Pertumbuhan embrio selama perkecambahan bergantung pada persiapan bahan makanan yang berada di dalam endosperm. Untuk keperluan kelangsungan hidup embrio maka terjadilah penguraian secara enzimatik yaitu terjadi perubahanpati menjadi gula yang selanjutnya ditranslokasikan ke embrio sebagai sumber energi untuk pertumbuhannya.
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa gibberelline berperan penting dalam proses aktivitas amilase. Hal ini telah dibuktikan dengan menggunakan GA yang mengakibatkan aktivitas amilase miningkat.
Aktivitas enzym a amilase dan protease di dalam endosperm juga didukung oleh GA melalui de novo synthesis. Hal ini ada hubungannya dengan terbentuknya DNA baru yang kemudian menghasilkan RNA.

f. Stimulasi aktivitas cambium dan perkembangan xylem.
Gibberelline mempunyai peranan dalam aktivitas kambium dan perkembangn xylem. Aplikasi GA3 dengan konsentrasi 100, 250, dan 500 ppm mendukung terjadinya diferensiasi xylem pada pucuk olive. Begitu pula dengan mengadakan aplikasi GA3 + IAA dengan konsentrasi masing-masing 250 dan 500 ppm, maka terjadi pengaruh sinergis pada xylem. Sedangkan aplikasi auxin saja tidak memberi pengaruh pada tanaman.

g. Dormansi
Dormansi adalah masa istirahat bagi suatu organ tanaman atau biji. Menurut Copeland (1976), dormansi adalah kemampuan biji untuk mengundurkan fase perkecambahannya hingga saat dan tempat itu menguntungkan untuk tumbuh.
Secara umum terjadinya dormansi adalah disebabkan oleh faktor luar dan faktor dalam. Faktor yang menyebabkan dormansi pada biji adalah sbb:
1. tidak sempurnanya embrio (rudimentery embriyo)
2. embrio yang belum matang secara fisikologis (physiological immature embriyo)
3. kulit biji yang tebal (tahan terhadap gerakan mekanis)
4. kulit biji impermeable ( impermeable seed coat)
5. adanya zat penghambat (inhibitor) untuk perkecambahan (presence of germination inhibitors).
Fase yang terjadi dalam dorminasi biji, menurut Amen (1968) ada empat fase yang harus dilalui :
1. fase induksi, ditandai dengan terjadinya penurunan jumlah hormon (hormon level)
2. fase tertundanya metabolisme (a period of partial metabolic arrest)
3. fase bertahannya embrio untuk berkecambah karena faktor lingkungan yang tidak menguntungkan.
4. Perkecambahan (germination), ditandai dengan meningkatnya hormon dan aktivitas enzym.
Peranan hormon tumbuh di dalam biji yang mengalami dorminasi telah dibahas oleh warner (1967) yang mengatakan bahwa GA3 dapat menstimulasi sintesis ribonukleas, amilase dan protoase di dalam endospem biji barley.

       Sejak hormon ini ditemukan dalam penelitian mengenai gangguan pada tanaman padi. Padi yang tidak kuat tidak dan menahan dirinya sendiri, karena ukuranya terlalu panjang, jika dibandingkan dengan batang padi normal. Penyabab utama kondisi ini adalah jamur  Gibberella fujikuroi
Gibberelin adalah senyawa aktif yang diambil dari jamur gibberella fujikuroi tersebut. Isolasi dari jamur tersebut jika di semprotkan ke tanaman lain akan membantu proses pertumbuhan. Pada saat ini telah diketahui Giberellin juga terdapat pada tanaman angiospermae, gymnospermae, paku-pakuan, lumut, serta beberapa jenis ganggang dan bakteri. berikut terdapat beberapa fungsi ulasan giberelin secara singkat.

1. Membuat Buah Tanpa Biji (Seedless)
Pemberian giberelin bermanfaat dalam proses parhenocarpy dan fruit set. Parthenocsrpy adalah proses tidak terbentuknya biji dalam buah. Karena itu pemberian giberelin bermanfaat dalam proses rekayasa untuk menghasilkan buah yang tak berbiji. Pemberian giberelin juga bermanfaat dalam meningkatkan jumlah tandan buah (fruit set) dan meningkatkan hasil buah. Pemberian giberelin juga dapat menyebabkan buah yang telah di panen tidak cepat busuk, sehingga lebih tahan lama.

2. Mengatasi Kekerdilan Akibat Mutasi (Gnetic Dwafism)
Giberelin merupakan hormon  yang mampu merangsang pertumbuhan secara sinergi, baik bagian batang, akar, maupun daun. Di dunia pertanian, manfaat giberelin yang terpenting adalah mengatasi masalah genetic dwafism atau kekerdilan pada tanaman. Genetic dwafism adalah suatu gejala yang di sebabkan oleh adanya mutasi. Dengan pemberian giberelin, tanaman yang tadinya tumbuh kerdil dapat kembali tumbuh normal. Hasil penelitian menunjukan pemberian giberelic acid pada tanaman kacang menyebabkan tanaman yang kerdil menjadi tinggi.

3. Mempercepat Proses Pembungaan
Giberelin berfungsi untuk mempercepat proses pembungaan. Giberelin dapat memenuhi kebutuhan bunga beberapa jenis tanaman pada musim dingin ketika potosintesis kurang dan memacu taanaman agar berbunga lebih awal.

4. Mempercepat Proses Pertumbuhan
Pemberian giberelin pada fase perkecambahan (Germination) sangat menguntungkan . Giberelin membantu proses anzimatik untuk mengubah pati menjadi gula yang selanjutnya di translokasi ke embrio. Gula akan di gunakan sebagai sumber energi untuk pertumbuhan, sehingga pertumbuhan embrio berlangsung cepat.
Pemberian GA3 dapat meningkatkan aktivitas kambium dan perkembangan xilem sehingga aktivitas pertumbuhan berjalan lancar dan cepat. Pemberian Giberelin pada tanaman kacang-kacangan akan memacu pertumbuhan dan mempercepat perambatan. Begitu juga pada tanaman semangka, mentimun air, dan mentimun yang di semprot giberelin mengalami perpanjangan batang yang sangat cepat.

5. Meningkatkan Produktivitas
Di Amerika serikat, Perkebunan anggur telah menggunakan giberelin untuk meningkatkan kerenyahan dan ukuran anggur. Di Hawai, giberelin digunakan untuk meningkatkan produksi tebu. Selain itu giberelin yang disemprotkan ke tanaman seledri dapat menyebabkan tanaman bertambah panjang, bertambah renyah, produksi meningkat.
Penggunaan giberelin pada tanaman anggur tahan terhadap infeksi cendawan. Penyemprotan giberelin dilakukan sejak tanaman berbunga dan pada fase pembentukan rangkaian buah. Penyemprotan giberelin pada buah dan daun jeruk nevel bisa mencegah timbulnya gangguan pada kulit buah dan menjaga agar kulit tetap kencang selama penyimpanan.

      Terdapat beberapa cara untuk meningkatkan hasil produksi pada rimpang jahe, salah satunya adalah dengan menggunakan ZPT.
Dari beberapa penelitian telah dilakukan untuk mencari hormon yang sesuai untuk meningkatkan produksititas rimpang. Hormon tanaman yang sudah terbukti bisa meningkatkan produksi rimpang jahe adalah hormone giberelin yang disemprotkan dengan konsentrasi sangat tinggi (150 ppm).
Hasil penelitian Sengupta et al. (2008) aplikasi giberelin bisa meningkatkan produksi rimpang jahe hingga 50% dari ukuran dan jumlah rimpang jahe yang tidak diberi hormon giberelin.
Dalam literaturnya Sengupta et al (2008) menyebutkan bahwa peningkatan produksi rimpang jahe dapat mencapai 69,86 ton/ha, sedangkan produksi yang tidak diberi hormon tersebut hanya mencapai 45,60 ton/ha.
Namun pemberian hormon giberelin harus diimbangi dengan ketersediaan hara/pupuk pada media tanam jahe. Produksi rimpang yang tinggi membutuhkan ketersediaan hara yang tinggi juga, salah satunya dengan aplikasi pupuk organik cair (POC Jahe).

Cara aplikasi praktek dan rujukan.
   bahan-bahan;
• Hormon Giberelin (GA3) serbuk.

Cara membuat;
Masukkan 1 gr serbuk hormon giberelin ke dalam gelas kaca atau jika ada gelas beker atau erlenmeyer 1000ml.
Tambahkan 10 ml ethanol absolut (>95%) dan diaduk hingga larutan hormon larut.
Jika hormon belum larut, maka tambahkan sedikit demi sedikit etanol hingga semua hormon hingga larut sempurna.
Kemudian tambahkan air hingga volumenya mencapai 1000 ml atau 1 L. Aduk hingga semua hormon tercampur merata.
Untuk pembuatan larutan yang lebih banyak, volume etanol dan air yang digunakan dikalikan dengan berat (gr) hormon yang akan dilarutkan.
Masukkan larutan hormon ke dalam botol. Larutan hormon siap diaplikasikan ke tanaman jahe. Botol harus disimpan di tempat yang sejuk, kering, dan terhindar dari sinar matahari langsung.

      Pengenceran untuk penyemprotan ke tanaman:
Ambil 150ml larutan hormon giberelin yang sudah dibuat sebelumnya.
Tambahkan dengan air bersih sebanyak 850ml hingga volumenya 1 liter.
Larutan diaduk hingga tercampur merata.
Larutan hormon giberelin siap disemprotkan ke tanaman.
Untuk volume yang lebih banyak, kalikan volume di atas dengan volume yang diinginkan. Misal, untuk satu tanki semprot 14L, volume larutan stok hormon yang diperlukan adalah 150ml x 14 = 2,1 L.
Satu rumpun jahe memerlukan kurang lebih 15-20 ml larutan hormon. Satu tangki 14L cukup untuk menyemprot 700 rumpun jahe.

Masa Penyemprotan:
Aplikasi hormon giberelin diberikan dua kali saja, yaitu pada tanaman jahe usia 90 hst dan 120 hst atau pada awal fase percabangan tiga dan fase pembesaran rimpang.

Catatan;
Aplikasi hormon giberelin tidak menjadi jaminan untuk meningkatkan hasil panen meningkat pesat. Hormon giberelin bukanlah nutrisi tanaman.
Jika pada media tanam tidak diimbangi dengan pemberian pupuk. Maka hasilnya kurang memuaskan dan optimal.
Hasil panen di atas adalah hasil penelitian. Namun pada kenyataannya hasil di lapangan bisa bervariasi, tergantung pada varietas jahe, kesuburan media, pupuk yang digunakan, teknik budidaya, iklim, hama, penyakit dll.

      Semoga bermanfaat dan sukses.